HONDA

Awal 2026, Indagsi Polda Bengkulu Pantau Harga Beras Masih di Atas HET

Awal 2026, Indagsi Polda Bengkulu Pantau Harga Beras Masih di Atas HET

Awal 2026, Indagsi Polda Bengkulu Pantau Harga Beras Masih di Atas HET--Ist/Rakyatbengkulu.com

RAKYATBENGKULU.COM - Mengawali tahun 2026, Subdit Industri dan Perdagangan (Indagsi) Ditreskrimsus Polda Bengkulu kembali turun ke lapangan untuk memantau stabilitas harga beras. 

Hasil pemantauan menunjukkan harga beras, baik jenis medium maupun premium, masih terpantau berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di sejumlah titik penjualan.

Pengecekan dilakukan di berbagai lokasi, mulai dari pasar tradisional, grosir, hingga gerai ritel modern dan minimarket di wilayah Bengkulu. 

Dari hasil pemantauan, harga beras medium dijual bervariasi di kisaran Rp12.500 hingga Rp14.500 per kilogram. 

Sementara itu, harga beras premium berada pada rentang Rp15.000 hingga Rp16.800 per kilogram.

BACA JUGA:12 OPD Masih Dijabat Plt, Pemkot Bengkulu Kebut Seleksi Terbuka Eselon II

BACA JUGA:Kejati Bengkulu Selamatkan Uang Negara Rp1,4 Triliun dan Jerat 49 Tersangka Korupsi Sepanjang 2025

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian harga beras masih melampaui ketentuan HET yang ditetapkan pemerintah. 

Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2024 tentang perubahan atas Peraturan Nomor 7 Tahun 2023, Provinsi Bengkulu masuk dalam Zona 2 dengan HET beras medium Rp14.000 per kilogram dan beras premium Rp15.400 per kilogram.

Tim Indagsi Polda Bengkulu mencatat kenaikan harga beras terjadi mulai dari tingkat distributor hingga ke agen dan pelaku usaha ritel. Faktor distribusi menjadi salah satu penyebab utama belum stabilnya harga beras di awal tahun ini.

Kasubdit Indagsi Ditreskrimsus Polda Bengkulu, Kompol Jery Nainggolan, menjelaskan bahwa tingginya harga beras dipengaruhi oleh pasokan yang masih bergantung pada daerah lain di luar Provinsi Bengkulu.

"Diawal tahun beras di Provinsi Bengkulu masih berada di atas HET disebabkan sumber beras berasal dari produsen luar Provinsi Bengkulu, yakni Lampung, ongkos akomodasi masih tergolong tinggi," katanya.

BACA JUGA:Arus Logistik Naik Tajam, BPS: Penurunan Penumpang Bukan Karena Ekonomi Melemah

BACA JUGA:Tiga Kebakaran Terjadi di Awal Tahun, Damkar Soroti Akses Sempit Permukiman saat Pemadaman Kebakaran

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: