Ekoenzim, Solusi Hemat dengan Limbah Bermanfaat
Membuat ekoenzim tidaklah sulit karena hanya memerlukan tiga bahan, yakni sampah organik dari sisa kulit buah dan sayur, molase atau air gula, serta air.--ANTARA
Jakarta (ANTARA) - Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah dengan baik, yang menyebabkan kondisi di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) terdapat penumpukan dan timbunan sampah.
Banyak hal menjadi penyebab menumpuknya sampah, antara lain peningkatan populasi, perubahan gaya hidup masyarakat, hingga ketiadaan sistem pengolahan limbah yang belum memadai. Tingginya pertumbuhan penduduk dan banyaknya urbanisasi menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat juga mengalami peningkatan.
Kemudian, kebiasaan membeli makanan, daripada memasak sendiri di rumah, menjadi lebih praktis dan menyisakan sampah plastik pembungkus, hingga sampah sisa makanan. Apabila pertumbuhan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat sulit untuk dikendalikan, maka menciptakan ekosistem pengolahan limbah menjadi pemberi harapan pasti untuk mengatasi masalah sampah.
Menurut data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), angka sampah nasional mencapai angka 31,9 juta ton di tahun 2023. Dari jumlah sampah tersebut, sebanyak 11,3 juta ton di antaranya atau sekitar 35,6 persen tidak dapat dikelola.
BACA JUGA:Zulhas Targetkan Pembenahan Tata Kelola MBG Sebelum 20 Oktober 2026
BACA JUGA:Prabowo Minta BRIN Bangun Teknologi Desalinasi Penuhi Kebutuhan Air
Penumpukan sampah tak terkelola itu berisiko tinggi akan longsor dan kebakaran akibat gas metana yang diproduksi sampah-sampah organik di TPA. Bencana akibat menumpuk sampah begitu saja tanpa dikelola dengan benar, atau disebut juga open dumping, kerap terjadi.
Pada Juni lalu, kebakaran besar terjadi di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga menyebabkan ratusan warga mengungsi dan terpapar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kebakaran terjadi di hampir separuh dari luas TPA tersebut karena akumulasi gas metana dari sampah organik di tempat pembuangan itu terpantik oleh cuaca panas. Pemadamannya pun memerlukan waktu yang tidak singkat, yakni lebih dari 10 hari.
Penumpukan sampah di TPA juga menjadi risiko di Bogor. Sampah produksi rumah tangga di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dialihkan ke TPA Galuga, yang setiap hari menampung hingga sekitar 2.000 ton sampah dari dua daerah tersebut. Hingga kini, diperkirakan sudah ada 15 juta ton sampah yang tidak terolah di TPA seluas 31,8 hektare itu. TPA Galuga, bahkan pernah longsor di tahun 2019 hingga menyebabkan 18 warga kehilangan lahan pertanian dan aset mereka.
Masalah sampah bisa menjadi bom waktu apabila tidak segera ditangani. Guna meminimalkan risiko akibat penumpukan sampah di TPA Galuga, salah satu desa di Kabupaten Bogor berupaya mengolah sampah organik dari rumah warga untuk menjadi hal lebih bermanfaat.
BACA JUGA:DLH Mukomuko Pastikan Limbah Medis B3 Puskesmas Dikelola Sesuai Aturan
Di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, masyarakat antusias untuk mengolah sampah organik mereka menjadi ekoenzim, cairan fermentasi yang diproduksi dari limbah organik ampas buah dan sayuran dengan ditambah molase atau air gula.
Sebelum mengolah sampah organik, masyarakat perlu memilah sampah dari rumah mereka dengan memisahkan limbah organik dan anorganik terlebih dahulu. Sampah organik dari rumah tangga itu kemudian yang dapat dikumpulkan untuk dijadikan cairan ekoenzim.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



