Tidak Semua Kepompong, Berubah Jadi Kupu-Kupu

Minggu 02-05-2021,18:45 WIB
Oleh: redaksi rb

HALO teman-temanku para pemuda Indonesia! semoga kalian sedang baik-baik saja. Ditanggal 2 Mei ini, Indonesia kembali memperingati satu diantara hari bersejarah dalam masa menuju kemerdekaan yakni Hari Pendidikan Nasional – HARDIKNAS. Sejatinya hidup adalah tempat untuk belajar mendidik diri, dan pelajaran terbaiknya adalah pengalaman. Di setiap proses hidup yang dijalani adalah kompetisi antar kompetitor. Sebanyak apapun pelajaran yang didapatkan, hanya orang berusaha yang akan memenangkan kompetisi itu. Kita adalah satu diantara miliaran dari setiap manusia yang mempunyai mimpi untuk sukses. Kita berusaha meraih kesuksesan itu dengan mengembangkan kreativitas diri dari nol menuju puncaknya sukses itu. Sukses itu hak semua orang, namun pada nyatanya hanya orang yang berusaha yang akan meraih kesuksessan itu. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Rad ayat 11). Berbicara tentang mahasiswa adalah sebuah topik pembahasan yang tiada habisnya. Komplektivitas karakter yang dimiliki mahasiswa menjadi sebuah kelebihan diantara tingkatan proses manusia. Hingga mahasiswa menjadi sebuah harapan penting sebuah negara sebagai agen perubahan untuk bangsa ini. Sejarah telah mencatat pentingnya peran mahasiswa didalam perbaikan bangsa ini. Pergerakan besar Reformasi 1998 menjadi mula perbandingan pergerakan mahasiswa di sebelum reformasi hingga setelah reformasi. Kita sama-sama mengetahui bahwasanya proses pendidikan yang telah diberikan untuk pendidikan formal dan nonformal dikalangan kampus belum mampu membuat mahasiswa sekarang menyejarah. Sebagai aset penting sebuah negara, tentu mahasiswa haruslah mempunyai jiwa kompetitor di dalam menjalani kehidupan kampus. Kita perlu banyak belajar dari setiap penciptaan Tuhan di semesta ini. Proses dimana “Kepompong Yang Berubah Menjadi Seekor Kupu-Kupu”. Bahwa tercatat jumlah penduduk yang ada di Indonesia pada tahun 2020 merujuk data statistik yang saya akses 27 april 2021 yaitu berjumlah kurang lebih 269 juta jiwa. Semakin hari semakin bertambah jumlah penduduk Indonesia dan semakin besar juga kompetisi didalam kehidupan. Di tanggal 2 Mei ini, Indonesia kembali memperingati satu diantara hari bersejarah dalam masa menuju kemerdekaan yakni Hari Pendidikan Nasional – HARDIKNAS yang tertuang di Keppres No. 316 Tahun 1959. Kita melihat dari lahirnya peringatan hari pendidikan nasional, melirik bagaimana susahnya mendapatkan pendidikan pada masa dulu. Sekarang ini Perguruan Tinggi sudah hampir dibuka disetiap Provinsi, bahkan setiap kabupaten sudah mempunyai sekolah Tinggi masing-masing. Artinya secara persiapan fasilitas tempat menuntut ilmu telah disediakan. Disini juga kita mendapati data setiap tahunnya bertambah jumlah mahasiswa baru yang masuk di Perguruan Tinggi. Sebagai Warga Negara di Indonesia yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia kita haruslah merefleksikan diri untuk perbaikan bangsa Indonesia. Hanya berapa persen saja yang bisa mengenyam bangku pendidikan di Indonesia. Hampir sebagian besar diantara yang mendapatkan kesempatan pendidikan itu adalah kemampuan dari orang tua, untuk orang tua yang ketidakmampuan jarang sekali bisa melanjutkan pendidikan itu. Namun bukan tentang pemerataan pendidikan yang ingin saya tanggapi disini, melainkan bagaimana hasil dari pendidikan tinggi di Indonesia. Pertama, Bicara mengenai pendidikan di Indonesia terutama di Perguruan Tinggi, perlulah mahasiswa menelaah Pendidikan terjadi di Indonesia yang memunculkan mindset untuk menjadi Pekerja ketika menyelesaikan perkuliahan. Mindset ini terus memerangi para Mahasiswa di Indonesia, dan bahkan ini adalah salah satu kelemahan yang menjadi dasar untuk pendidikan Indonesia. cobalah sejenak kita bertanya kepada mahasiswa, apa alasan yang mereka berikan didalam memilih jurusan mereka kuliah ? sebagian besar akan menjawab “saya ingin bekerja di perusahaan ini, bekerja dikantor ini, bekerja disini, dsb” Kedua, setiap proses perubahan kepompong tak semua yang berhasil menjadi kupu-kupu. Sebanyak ratusan juta manusia Indonesia, tak semua yang mampu menyandang gelar mahasiswa. Begitu juga dengan mahasiswa, setiap proses kehidupan kampus tak semua berhasil menjadi Mahasiswa yang diharapkan oleh bangsa Indonesia. Banyak mahasiswa yang sedang kebingungan dipersimpangan jalan untuk menampakkan eksistensi menjadi mahasiswa. Di antara mahasiswa yang sedang bingung itu banyak yang memilih menjadi mahasiswa Hedon dengan minimnya keikutsertaan mereka didalam memperjuangkan peran sebagai seorang mahasiswa. Bahkan banyak juga menjadi mahasiswa yang berorientasi hanya sebagai social orientet dibandingkan dengan mahasiswa yang berorientasi perjuangan hingga hanya memenuhi daftar nama mahasiswa. Dikarenakan ketakutan didalam mengambil resiko terhadap perjuangan yang diberikan. Untuk mahasiswa Indonesia dimanapun kalian berada, sejatinya seorang mahasiswa adalah letak idealis dan mempunyai jiwa perjuangan atau tantangan serta berani mengambil risiko terhadap pilihan. Jikalau hari ini kalian hanya berdiam diri atau hanya menjadi tim tepuk tangan disetiap perjuangan mahasiswa yang lain. Kurangilah! Kalian adalah orang yang sama dimata Indonesia, sama sama menjadi harapan bangsa Indonesia ke depan. Hadapilah setiap tantangan yang menerpa saat kamu menjadi mahasiswa, jangan pernah lari dari permasalahan itu. Berjuanglah bersama barisan para pejuang karena kekuatan sebenarnya bangsa ini ditentukan sikap yang diambil dari seorang pemuda. Berkorbanlah dengan tak ternilai untuk bangsa ini. Selamat memilih jalan yang lebih tepat kawanku dimanapun berada. Saya yakin jalan yang kalian pilih adalah jalan yang memberikan marwah terbaik untuk mahasiswa dan bangsa indonesia ke depannya. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Oleh Ahmad Handoyo. Ketua KAMMI Daerah Bengkulu. Lulusan S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu  

Tags :
Kategori :

Terkait