Ketika Listrik Padam, Kepercayaan Publik Ikut Diuji

Senin 22-06-2026,12:18 WIB
Reporter : Peri Haryadi
Editor : Peri Haryadi

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P.

Ahli Peneliti Utama Bidang Kebijakan Publik

RAKYAATBENGKULU.COM - "Menyala bergilir" menjadi plesetan yang ramai diperbincangkan warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik di tengah pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Ungkapan tersebut mungkin terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang serius: masyarakat mulai merasakan ketidakpastian terhadap layanan listrik yang selama ini dianggap sebagai kebutuhan dasar yang harus selalu tersedia.

Di era digital saat ini, listrik bukan lagi sekadar fasilitas pendukung, melainkan tulang punggung hampir seluruh aktivitas masyarakat.

Dari rumah tangga, dunia pendidikan, layanan kesehatan, industri, perdagangan, hingga pemerintahan, semuanya bergantung pada pasokan listrik yang andal.

Ketika listrik padam, bukan hanya lampu yang mati, tetapi juga produktivitas, kenyamanan, bahkan kepercayaan publik.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang memegang mandat strategis dalam penyediaan tenaga listrik, PT PLN (Persero) memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan sistem kelistrikan berjalan dengan tingkat keandalan yang tinggi.

BACA JUGA:Melampaui Sekat-Sekat Kemanusiaan

BACA JUGA:Pulau Enggano Bengkulu Menangis: Jangan Biarkan Saudara Kita Mati kelaparan

Masyarakat tentu memahami bahwa gangguan teknis dapat terjadi di mana saja dan kapan saja.

Tidak ada sistem infrastruktur yang sepenuhnya bebas risiko.

Namun yang menjadi persoalan adalah ketika gangguan berulang menimbulkan kesan bahwa sistem belum cukup siap menghadapi berbagai potensi gangguan tersebut.

Meski demikian, keandalan listrik sesungguhnya tidak semata-mata menjadi tanggung jawab PLN.

Sistem kelistrikan nasional merupakan rantai panjang yang dimulai dari ketersediaan energi primer, pembangkitan, transmisi, distribusi, hingga pelayanan kepada pelanggan.

Tags :
Kategori :

Terkait