"Beberapa kali tim kesehatan lapangan kami telah memberikan layanan kesehatan kepada penduduk terdampak karhutla di Posko Pengayuan Banjarbaru," kata Diauddin.
BACA JUGA:Unib Sulap Pisang Enggano Jadi Produk Bernilai Tinggi, Kemasan UMKM Kini Naik Kelas
BACA JUGA:Investasi Rp473 Miliar Siap Masuk Bengkulu, Pabrik Minyak Goreng Jadi Andalan
Ancaman kesehatan tersebut mulai tergambar dari perkembangan kasus ISPA di Kalsel. Data terbaru Dinkes menunjukkan kasus ISPA meningkat selama lima minggu berturut-turut dengan total 36.196 kasus.
Di Kota Banjarmasin terdapat jumlah kasus tertinggi sebanyak 1.603 kasus, disusul Banjarbaru 1.142 kasus, Kabupaten Banjar 1.136 kasus, Tanah Laut 751 kasus, dan Kotabaru 538 kasus.
Di tengah ancaman tersebut, Dinkes dan seluruh jajaran juga menyiapkan ruang udara bersih atau ruang bebas asap dengan memanfaatkan ruangan tertutup, pendingin udara dan alat penyaring udara apabila tersedia, terutama untuk pasien dan kelompok rentan.
Kabut asap dengan demikian bukan sekadar persoalan langit yang berubah kelabu. Di balik kepulan yang menggantung di udara, ada napas anak-anak yang harus dijaga, ada lansia yang membutuhkan perlindungan dan ada keluarga yang harus memilih antara tetap beraktivitas atau menghindari paparan asap.
Ketika api masih membakar lahan, perjuangan melindungi masyarakat dari dampaknya pun harus berjalan bersamaan agar musim kemarau tidak berubah menjadi musim meningkatnya gangguan pernapasan.