HONDA

Cerita Sukses UMKM Bakauheni Tumbuh Bersama BRI, Keripik Pisang Njik Njik Pernah Tampil di Pameran Belanda

Cerita Sukses UMKM Bakauheni Tumbuh Bersama BRI, Keripik Pisang Njik Njik Pernah Tampil di Pameran Belanda

Keripik Pisang Njik Njik yang pernah tampil di pameran Belanda menjadi salah satu cerita sukses UMKM Bakauheni yang tumbuh bersama BRI.--Heri/rakyatbengkulu.com

LAMPUNG, RAKYATBENGKULU.COM - Suasana di rumah produksi usaha keripik pisang tampak sibuk sore itu. Para karyawan bekerja dengan cekatan di setiap sudut ruangan, menjalankan tugas masing-masing demi menjaga kualitas keripik pisang khas Lampung tersebut tetap terjaga.

Tampak keripik pisang yang telah matang dipindahkan ke meja pendinginan sebelum masuk ke tahap berikutnya. Di bagian pengemasan, para pekerja tampak sigap memasukkan keripik ke dalam kemasan dengan rapi. 

Keripik dimasukkan ke dalam kemasan sesuai takaran, serta varian rasa. Setiap bungkus diisi menggunakan gas nitrogen agar keripik tetap renyah lebih lama saat sampai ke tangan pelanggan.

Deretan kemasan berbagai rasa pun mulai memenuhi meja produksi, mulai dari cokelat lumer, green tea, keju, hingga rasa manis khas Lampung. Warna kemasannya mencolok dengan desain modern didominasi merah dan kuning sesuai dengan pilihan rasanya yang cukup beragam.

BACA JUGA:Dari Bengkulu Menuju Panggung Dunia, KUR UMKM BRI Jadi Langkah Red Project Bangkitkan Industri Kreatif

BACA JUGA:KUR BRI Dorong UMKM Kabanjahe Naik Kelas, dari Usaha Es Buah Menjadi Laundry Express

Lokasi produksi keripik pisang ini berada di Jalan Muara Piluk, RT 02 RW 17, tepat di samping Masjid Jami Nurul Iman. Dari sana, Menara Siger tampak tidak terlalu jauh berdiri megah sebagai ikon gerbang Pulau Sumatera. Jalur itu setiap hari dilalui wisatawan, sopir angkutan, hingga para pemudik yang hendak menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pulau Jawa.

Di tengah lalu lintas orang yang tak pernah benar-benar sepi itulah, sebuah usaha rumahan tumbuh perlahan menjadi salah satu UMKM makanan khas Lampung yang mulai dikenal banyak orang. Namanya sederhana namun mudah diingat, Keripik Pisang Njik Njik.

Saat memasuki ruang display produk berukuran sekitar 2,5 x 4 meter, deretan kemasan keripik pisang tersusun rapi memenuhi rak-rak etalase. Harga setiap kemasan pun relatif terjangkau, mulai Rp13 ribu hingga Rp18 ribu. Namun di balik kemasan sederhana itu, ada cerita panjang tentang perjuangan membangun usaha dari nol.

Riki Junaidi, pemilik Keripik Pisang Njik Njik, masih mengingat jelas bagaimana usaha tersebut dimulai pada 15 November 2019. Kala itu, proses produksi masih sangat sederhana. Penggorengan menggunakan kayu bakar, sementara aktivitas produksi dilakukan di rumah dengan peralatan seadanya.


Riki Junaidi, pemilik Keripik Pisang Njik Njik mengaku awal merintis usaha keripik pisang Lampung tersebut, modal menjadi tantangan terbesar. Ia kemudian memberanikan diri mengajukan pinjaman usaha ke BRI sebesar Rp50 juta.--Heri/rakyatbengkulu.com

BACA JUGA:Pemprov Bengkulu Bentuk Tim Tangani Persoalan Agraria dan Dugaan Pelanggaran Perusahaan

BACA JUGA:Pemprov Bengkulu Matangkan Pembangunan TPA Regional di Bengkulu Tengah

“Saya waktu itu masih bekerja di kapal. Jadi usaha ini benar-benar dirintis pelan-pelan,” ujar Riki.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: