HONDA

Kisah Pilu Pria Paruh Baya di Bengkulu, Tinggal di Gubuk yang Menyatu dengan Kandang Ayam Demi Bertahan Hidup

Kisah Pilu Pria Paruh Baya di Bengkulu, Tinggal di Gubuk yang Menyatu dengan Kandang Ayam Demi Bertahan Hidup

Pandi, seorang pria paruh baya, menjalani hari-harinya dalam sunyi di atas tempat tidur --Riko/rakyatbengkulu.com

BENGKULU, RAKYATBENGKULU.COM - Di sudut Kelurahan Pematang Gubernur, Kota Bengkulu, sebuah gubuk kayu berdiri renta di tengah pemukiman yang kian padat. 

Bangunan itu jauh dari kata mewah, bahkan nyaris tak layak disebut hunian. 

Di sanalah Pandi, seorang pria paruh baya, menjalani hari-harinya dalam sunyi di atas tempat tidur akibat kelumpuhan yang menderanya.

Pemandangan di rumah Pandi cukup menyesakkan dada. 

Sebagian ruang hidupnya menyatu dengan kandang ayam. 

BACA JUGA:Praperadilan Kredit Rp5 Miliar Bank Bengkulu Bergulir, Penyidik Tegaskan Proses Sah Sesuai Prosedur

BACA JUGA:Diduga Berenang Saat Jembatan Rusak, Kakek 70 Tahun Tewas di Sungai

Namun bagi Pandi, keberadaan ayam-ayam itu bukan sekadar hobi atau pengganggu, melainkan mesin waktu yang membawanya kembali ke masa jaya sebelum saraf terjepit merenggut kemampuannya berjalan lima tahun lalu.

“Dari pelihara ayam, dulu saya bisa beli tanah. Ayam ini saksi hidup saya, akan tetapi setelah saya seperti ini tanah itu di jual untuk biaya berobat saya,” katanya dengan nada getir saat ditemui, Jumat 9 Januari 2026.

Perjuangan di Tengah Keterbatasan

Kehidupan Pak Pandi berubah drastis sejak ia tak lagi mampu mengais rezeki sebagai kuli bangunan. 

Tekanan ekonomi dan kondisi fisik yang menurun memaksanya bertahan hidup hanya dengan bantuan sosial.

“Dulu saya masih kuat kerja, tapi sekarang badan sudah nggak kuat lagi,” ujar Pandi.

Kesedihannya kian mendalam saat melihat kedua buah hatinya. 

BACA JUGA:75 Persen Bekerja dari Mana Saja, Kebijakan WFA-WFO ASN Bengkulu Dievaluasi hingga Akhir Januari

BACA JUGA:Gedung Mapolsek Ratu Agung Diresmikan, Pemkot Bengkulu Dukung Layanan Polisi

Karena himpitan ekonomi dan trauma mendalam sejak ditinggal sang ibu, anak-anaknya terpaksa putus sekolah. 

Anak bungsunya bahkan tak berani menginjakkan kaki di sekolah sejak kelas 3 SD karena sering menjadi sasaran perundungan teman-temannya.

“Sejak ibunya meninggal, dia jadi minder serta dia sering kali di diamin oleh teman-temannya, diejek dan sebagainya hingga dia tidak berani sekolah lagi,” tuturnya lirih.

Meski kondisi gubuknya memprihatinkan, kasih sayang Pandi kepada anaknya tak goyah. 

Ia sempat ditawari pemerintah untuk pindah ke kontrakan yang lebih layak, namun ia urungkan karena tangisan sang anak yang enggan berpindah tempat.

BACA JUGA:Gedung Mapolsek Ratu Agung Diresmikan, Pemkot Bengkulu Dukung Layanan Polisi

BACA JUGA:Gagal Beraksi di Kelurahan Pensiunan, Pelaku Curanmor Asal Rejang Lebong Nyaris Diamuk Massa

 Bagi mereka, gubuk itu adalah satu-satunya ruang aman yang tersisa, meski harus berbagi napas dengan aroma kandang.

“Saya ingin anak-anak sekolah, tapi keadaan belum memungkinkan,” ucapnya.

Ganjalan Administrasi dan Uluran Tangan

Pemerintah setempat melalui Kelurahan Pematang Gubernur memastikan bahwa Pandi tidak terabaikan dalam jaminan sosial. 

Lurah M. Taher menegaskan bahwa berbagai bantuan rutin telah disalurkan untuk meringankan beban keluarga ini.

“Alhamdulillah, untuk bantuan terus kami salurkan. Seperti bantuan PKH, beras, termasuk bantuan dari Baznas,” ujar M. Taher.

Namun, untuk memberikan hunian yang benar-benar layak melalui program bedah rumah, pemerintah masih menemui jalan buntu. 

Masalahnya klasik, yakni status kepemilikan lahan.

Karena tanah yang ditempati bukan milik pribadi, regulasi tidak mengizinkan anggaran bedah rumah diturunkan di sana.

BACA JUGA:Real Madrid vs Barcelona di Final Piala Super Spanyol 2026, Simak Jadwal dan Prediksinya!

BACA JUGA:Gagal Beraksi di Kelurahan Pensiunan, Pelaku Curanmor Asal Rejang Lebong Nyaris Diamuk Massa

“Kami sudah beberapa kali mengajukan, tapi karena tanahnya bukan atas nama sendiri, program bedah rumah belum bisa dilaksanakan, kita pernah ajukan pada tahun 2023 untuk program bedah rumah,” jelas Taher.

Kini, Pandi hanya bisa bersandar pada harapan. 

Di dalam gubuk kayu yang kian rapuh itu, ia masih menyimpan mimpi agar suatu hari nanti, anak-anaknya bisa kembali bersekolah dan mendapatkan masa depan yang jauh lebih cerah. 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: