Gajah dan Harimau Mati Berdekatan, Aktivis Soroti Bukti Kerusakan Habitat di Mukomuko
Gajah dan Harimau Mati Berdekatan, Aktivis Soroti Bukti Kerusakan Habitat di Mukomuko--Ist/rakyatbengkulu.com
MUKOMUKO, RAKYATBENGKULU.COM – Kerusakan kawasan hutan di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, kini menjadi ancaman serius yang kian nyata. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem yang selama ini terbentuk dari interaksi antara makhluk hidup (biotik) dan lingkungan fisiknya (abiotik).
Ekosistem yang seharusnya menjadi tatanan utuh dan saling memengaruhi untuk menciptakan keseimbangan, stabilitas, serta siklus energi dan materi, kini mulai terganggu. Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam beberapa waktu terakhir, satwa liar yang dilindungi dilaporkan semakin sering mendekati bahkan masuk ke pemukiman warga.
Sebelumnya, insiden tragis juga terjadi ketika seorang warga meninggal dunia akibat diterkam Harimau Sumatera saat mencari rumput untuk pakan ternaknya.
BACA JUGA:51 Pelajar Bengkulu Bersaing Jadi Paskibraka, Target Tembus Tingkat Nasional
BACA JUGA:Dekati Zona Liga Champions, AS Roma Tempel Ketat Juventus Usai Gilas Fiorentina
Peristiwa terbaru kembali mengejutkan. Dua ekor satwa dilindungi, yakni gajah dan Harimau Sumatera, ditemukan mati di kawasan hutan yang berdekatan di area konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT), tepatnya di dalam kawasan Hutan Produksi Air Teramang.
Untuk lokasi penemuan Harimau Sumatera, diketahui berada di aliran anak sungai wilayah SP 4, Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik.
Kerusakan habitat diduga menjadi penyebab utama meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. Kondisi hutan yang rusak parah akibat aktivitas ilegal dinilai memaksa satwa keluar dari habitat aslinya untuk mencari makan.
Sebelumnya, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Mukomuko telah melakukan operasi gabungan bersama Satgas Pemberantasan Kawasan Hutan (PKH) yang berlangsung pada 2 hingga 4 Desember 2025. Namun, hasil operasi tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan.
"Hasil dari operasi Satgas PKH di Mukomuko tentu belum terlihat. Karena baru menangkap beberapa pelaku kelas teri (Kecil). Sementara aktor besarnya diduga masih menikmati hasil kebun dalam kawasan hutan secara ilegal," ungkap Ketua Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP. K-P-K) Mukomuko, M Toha.
BACA JUGA:Aksi May Day di Bengkulu Berlanjut ke Hearing, Tuntutan Buruh Disampaikan
BACA JUGA:Pemkot Bengkulu Benahi Parkir, Bapenda Tekankan Setoran Transparan ke Kas Daerah
Ia menjelaskan, KPHP bersama tim Satgas PKH juga telah memasang plakat larangan memasuki kawasan hutan negara tanpa izin di sejumlah titik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

