Lebong Nasibmu Kini: Alarm Keras dari Hutan yang Terabaikan
Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, M.P--
RAKYATBENGKULU.COM - Banjir yang melanda Kabupaten Lebong bukan sekadar akibat curah hujan tinggi.
Ini adalah akumulasi dari kerusakan ekologi yang telah lama diabaikan. Ketika hutan di hulu rusak, Daerah Aliran Sungai (DAS) kehilangan daya serapnya.
Air yang seharusnya tertahan, kini meluap deras ke permukiman—seperti yang terjadi di Air Ngeai, Air Kotok, dan Air Uram.
Sebagai putra daerah, hati ini sungguh terpukul. Lebong yang dahulu hijau dan menenangkan, kini memperlihatkan luka yang nyata.
BACA JUGA:Chelsea dan Manchester City Tatap Final Usai Hasil Drawing Semifinal Piala FA Keluar
Di kawasan Danau Tes, mulai dari Kotadonok hingga ke Tes hilir, kiri kanan jalan tampak gundul. Jika masuk lebih dalam, kerusakan jauh lebih parah. Ini bukan lagi tanda bahaya—ini sudah kondisi darurat ekologis.
Kerusakan ini tidak terjadi begitu saja. Ia adalah buah dari pilihan yang keliru—ketika ekonomi sesaat lebih diutamakan daripada keberlanjutan.
Pembangunan villa tanpa kaidah konservasi terus menjamur, menggerus fungsi lindung kawasan. Aktivitas tambang di Lebong Simpang meninggalkan kerusakan yang nyata. Alam dipaksa memberi, tanpa diberi kesempatan untuk pulih.
Lebih menyakitkan lagi, dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada manusia. Banyak pemuda Lebong kehilangan arah—menganggur, tidak melanjutkan pendidikan, dan hanya bertahan dengan aktivitas seadanya. Ini bukan sekadar masalah sosial, ini adalah tanda bahwa pembangunan tidak berjalan dengan adil dan berkelanjutan.
Kita harus jujur: pendekatan pembangunan kita masih keliru. Pemerintah sering hadir saat bencana terjadi, tetapi absen dalam pencegahan. Tanggap darurat memang penting, tetapi tanpa keberanian untuk menata ulang kebijakan—terutama terkait hutan, tata ruang, dan pertambangan—maka bencana akan terus berulang.
Lebong hari ini sedang memberi pesan keras:
bahwa alam tidak bisa terus dieksploitasi tanpa batas.
Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah nyata:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




