Harga Sawit Anjlok, Perputaran Ekonomi Masyarakat Mukomuko Mulai Melambat
Kepala Disperindagkop dan UKM Mukomuko, Syafriadi, SH--
MUKOMUKO, RAKYATBENGKULU.COM – Turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Mukomuko mencatat, perlambatan mulai terasa di sektor perdagangan, terutama pada daya beli masyarakat yang selama ini bergantung pada pendapatan hasil sawit.
Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah pasar tradisional, beberapa komoditas kebutuhan pokok seperti bawang dan cabai mulai mengalami kenaikan harga. Selain itu, para pedagang juga mulai mengeluhkan menurunnya jumlah pembeli.
Kepala Disperindagkop dan UKM Mukomuko, Syafriadi, SH mengatakan penurunan harga sawit sangat memengaruhi perputaran uang di tengah masyarakat karena mayoritas warga menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan kelapa sawit.
BACA JUGA:Pemprov Bengkulu Lepas Atlet Menembak Muda ke PB Perbakin Jakarta untuk Persiapan PON 2028
BACA JUGA:Dinkes Bengkulu Imbau Warga Jaga Pola Makan Saat Iduladha, Cegah Kolesterol dan Hipertensi
“Memang sudah mulai terasa. Dari hasil pemantauan kami di sejumlah pasar, para pedagang mulai mengeluhkan sepinya pembeli. Karena perputaran uang di masyarakat sebagian besar berasal dari hasil penjualan sawit,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (26/5/2026).
Meski demikian, Syafriadi memastikan kondisi harga kebutuhan pokok di pasaran masih relatif stabil dan belum terjadi lonjakan signifikan.
“Kalau untuk harga sembako, masih normal. Hanya beberapa saja yang naik seperti bawang dan cabe. Dan belum ada kenaikan yang signifikan. Artinya kondisi ekonomi kita saat ini masih cukup aman,” katanya.
Ia mengingatkan, dampak ekonomi diperkirakan akan semakin terasa apabila harga TBS kelapa sawit tidak kunjung membaik dalam waktu dekat.
BACA JUGA:Potensi dan Risiko Tambang Emas Seluma – Bengkulu
Menurutnya, jika kondisi tersebut berlangsung lebih dari satu pekan, maka penurunan daya beli masyarakat berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi daerah secara lebih luas.
“Kalau kondisi ini berlangsung lebih dari satu minggu tanpa ada kenaikan harga, maka dampaknya akan lebih terasa. Bisa saja daya beli masyarakat turun drastis dan berpengaruh pada harga maupun distribusi barang,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


