GUSAR DI ALL ENGLAND

Jumat 26-03-2021,10:42 WIB
Oleh: redaksi rb

ALL ENGLAND adalah cerita kedigdayaan. Bagi Indonesia. Total 48 gelar telah diraih para pebulutangkis Indonesia dalam kejuaraan bulutangkis tertua di dunia tersebut. Bahkan disertai rekor yang belum terpecahkan hingga saat ini. Atas nama Rudi Hartono (8 gelar juara). Hanya Tiongkok, Denmark dan tuan rumah Inggris yang bisa mengalahkan Indonesia dalam hal jumlah gelar juara.

Tonggak kehebatan Indonesia di All England dimulai 21 Maret enam puluh dua tahun silam. Di lapangan utama Wembley Arena, dua single putra terbaik tanah air, Tan Joe Hok dan Ferry Sonneville bertemu di partai puncak. Itulah All Indonesian final pertama tunggal putra. Pertemuan sesama Indonesia di babak final terulang pada tahun 1969 antara Rudi Hartono Vs Darmadi, tahun 1971 antara Rudi Hartono Vs Muljadi, berikutnya dua kali duel Rudi Hartono Vs Liem Swie King yakni 1976 dan 1978. Sama-sama saling mengalahkan. Rudi menang final 1976, sedangkan Liem Swie King juara 1978.

Penggemar bulutangkis tanah air baru bisa menyaksikan kembali final sesama pebulutangkis Indonesia di nomor tunggal putra lima belas tahun kemudian. Heriyanto Arbi Vs Joko Suprianto (1993) dan Heriyanto Arbi Vs Ardi B Wiranada (1994). Itulah tahun terakhir Indonesia juara tunggal putra. Setelah Heriyanto Arbi, belum ada tunggal putra lain yang sanggup juara All England. Sampai sekarang.

Kemunculan Tan Joe Hok sebagai juara baru All England tahun 1959 tak hanya membanggakan dari sisi prestasi, tapi juga mengangkat moral dan harkat martabat sebuah bangsa yang baru merdeka. Apalagi tahun-tahun sebelum itu, Inggris bersama Belanda, masih berusaha untuk menjajah kembali Indonesia. Pertempuran di mana-mana melawan Sekutu.

Perjuangan membela bangsa tidak saja di rimba belantara lewat strategi gerilya. Bukan hanya sebatas adu silat lidah di meja diplomasi. Tapi perjuangan juga ada di panggung olahraga. Karena itu, keberhasilan Tan Joe Hoek menjejaki podium tertinggi All England dan kisah heroik pahlawan-pahlawan bulutangkis merebut Piala Thomas, memercikkan api nasionalisme sekaligus membangkitkan spirit juang. Mereka bukan mengejar materi atau imbalan hadiah, tapi mengusung kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.

Bagaimana tidak membanggakan, ketika ada putra bangsa mampu menaklukkan kejuaraan yang umurnya setengah abad lebih tua dari usia Republik Indonesia. All England pertama kali dihelat tahun 1899. Seumur klub sepakbola AC Milan. Ketika itu, jangankan gerakan Boedi Utomo atau Sumpah Pemuda, Soekarno-Hatta pun belum lahir ke dunia.

Prestisius All England sejajar dengan kejuaraan dunia. Kalau di dunia tenis ada kejuaraan level Grand Slam yakni Australia Open, Prancis Open, Wimbledon dan AS Open. Di bulutangkis juga ada kejuaraan level Super 1000 yakni All England, Indonesia Open dan China Open.

Kesuksesan Tan Joe Hoek membuktikan bahwa merah putih bisa berkibar dan naik pada level tertinggi di negeri orang. Indonesia Raya bergema. Tan juga mempersembahkan medali emas pada Asian Games 1962 di Jakarta. Itulah awal pebulutangkis Indonesia menancapkan prestasi di pentas Internasional. Prestasi berikutnya membuat mata dunia terbelalak. Manakala Tan Joe Hoek, Ferry Sonneville, Njoo Kiem Bie, Eddy Yusuf merebut Piala Thomas, lambang supremasi bulutangkis beregu putra pada 1958, 1961, 1964.

Rentetan prestasi itu dilanjutkan generasi Rudi Hartono, Christian Hadinata, Ade Chandra, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, hingga Liem Swie King dan Icuk Sugiarto dengan merebut Piala Thomas tahun 1964, 1970, 1973, 1976, 1979, 1984. Kemudian dilanjutkan generasi Alan Budi Kusuma, Ardi B Wiranata, Heriyanto Arbi, Joko Suprianto, Taufik Hidayat, Hendrawan dengan merebut Piala Thomas 1994, 1996, 1998, 2000 dan tahun 2002. Total Indonesia telah merengkuh 13 gelar Piala Thomas, mengungguli Tiongkok yang baru 10 gelar atau Malaysia 5 gelar.

Impian untuk memecahkan telur 27 tahun kevakuman gelar tunggal putra All England adalah tahun ini. Harapan ada di pundak Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Dua single Indonesia ini punya peluang cukup besar juara All England tahun ini. Disamping ketidakhadiran para pebulutangkis Tiongkok, penampilan Ginting dan Jojo dua tahun terakhir cukup menjanjikan. Semua pebulutangkis dunia sudah pernah dikalahkah. Jojo meraih emas Asian Games 2018. Sedangkan Ginting mampu juara China Open dan Indonesia Master.

Batu ganjalan diperkirakan Kento Momota dari Jepang atau duo Denmark, Viktor Axelsen dan Antonsen. Sedangkan lawan lain seperti Lee Jii Zia dari Malaysia yang kemudian keluar sebagai juara All England 2021, Ginting lebih sering menang. Dua pertemuan terakhir di ajang BWF World Tour Final Januari lalu dan kejuaraan Beregu Asia 2020, Ginting menang atas Lee Jii Zia.

Selain Ginting dan Jojo, All England tahun ini juga menjadi kesempatan bagi Kevin Sanjaya/Markus Gideon untuk melakukan revans terhadap ganda Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe yang mengalahkannya di final All England 2020 lewat rubber game. Endo/Watanabe akhirnya kembali juara All England 2021.

Tapi sekarang zaman covid. Hal tak terduga bisa terjadi. Cerita gembira yang dirintis Tan Joe Hok dulu, tahun ini berubah menjadi kisah gusar, sedih, marah, jengkel. Semua perasaan campur aduk. Adalah inbox surat elektronik dari otoritas kesehatan Inggris yang mengawali cerita menusuk hati tersebut. Tidak semua pemain memang yang menerima surat tersebut. Dari 24 pemain, pelatih dan official, hanya 20 pemain yang menerima surat. Empat lainnya tidak. Mohammad Ahsan termasuk yang tidak menerima surat elektronik. Padahal keempatnya satu pesawat. Nggak jelas juga he he.

Isi surat: pemain, pelatih dan official Indonesia diperintahkan isolasi selama 10 hari. Alasannya, para pemain Indonesia satu penerbangan dengan seseorang yang kemudian ternyata positif covid saat dari Istanbul menuju Birmingham. Para pemain Indonesia dipaksa mundur.

Pemain dan official tentu saja protes. Apalagi saat itu, Kevin dkk sudah memainkan pertandingan babak pertama. Dan menang. Tapi BWF tak berdaya dengan alasan kebijakan pemerintah Inggris tidak bisa diubah. Presiden BWF, Poul Erik Hoyer Larsen, orang yang menghentikan langkah Heriyanto Arbi di babak semifinal Olimpiade Atlanta 1996, hanya bisa menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan tersebut. Tapi permasalahan tak berhenti sampai di situ. Sepulang kembali ke tanah air, pemerintah melalui Menpora juga melayangkan protes resmi.

Apapun tindaklanjut protes Indonesia, yang pasti kejuaraan All England 2021 sudah berakhir. Jepang memborong 4 dari 5 gelar yang diperebutkan. Tunggal putra direbut Lee Jii Zia dari Malaysia yang digadang-gadang sebagai penerus Lee Chong Wei. Lee Jii Zia membuat kejutan dengan mengalahkan Viktor Axelsen di final dan menyingkirkan Kento Momota di perempatfinal.

Mari kita ambil hikmah kisah gusar di All England. Kita sedang dilatih berjiwa besar. Karena itu, Pebulutangkis Indonesia lebih baik fokus menatap masa depan yang lebih panjang.

Penulis adalah wartawan senior yang juga Ketua PWI Provinsi Bengkulu

Tags :
Kategori :

Terkait