Dia anak kelima dari pasangan Pangeran Kamidan Singa Jaya dengan Mastimah. Pangeran Kamidan merupakan Pesirah Marga Selupu Baru (sekarang masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah).
BACA JUGA:Belasan Anggota Gangster Begal di Bengkulu Resmi Ditahan Jaksa, Kajari Pastikan Tidak Ada Diversi
Dari keluarga ini banyak lahir tokoh dan pejuang, Pangeran Kamidan Singa Jaya sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Sedari awal, dia yakin pendidikan akan mempercepat terwujudnya cita-cita kebangsaan.
BACA JUGA:Target Investasi Rp 1,8 Triliun di Bengkulu Tengah Sulit Tercapai, Berikut Penyebabnya
Sebut saja misalnya anak tertuanya bernama Syafe'i adalah penyuluh pertanian yang sampai akhir hayatnya mengabdikan diri untuk kemajuan pertanian di pulau Sumatera. Dia berkeliling dari Lampung sampai Sumatera Utara, terakhir menetap di Sibolga dan dimakamkan disana.
BACA JUGA:Masukkan Tahu dalam Menu MPASI, Bisa Menguatkan Tulang, Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Ada juga Letda. Bustami Kamidan anak ketiganya yang gugur tahun 1949, ketika dihadang pasukan Belanda bersenjata lengkap di jembatan batu, (sekitar 300 m dari pasar Taba Penanjung ke arah Kota Bengkulu).
BACA JUGA:Bengkulu Punya Perairan Pulau Mega dan Pulau Enggano! Ini Luas Wilayah Tangkapan Ikannya
Terjadi saling berbalas tembakan antara pasukan Bustami Kamidan dengan pasukan Belanda. Na'as, Bustami Kamidan tertembak tepat di dada kiri, dia dimakamkan di TMP Balai Buntar Kota Bengkulu.
Daerah Taba Penanjung dan sekitarnya merupakan basis pejuang, Februari 1949, Batalyon 28 STB (Sub Teritorium Bengkulu) yang dipimpin M.Z. Ranni menjadikan Desa Susup di Kaki Gunung Bungkuk (sekitar 15 km dari Taba Penanjung) sebagai markas konsolidasi.
BACA JUGA:Suka Nonton Film Porno jadi Mudah Lupa dan Pecah Konsentrasi, Terjadi Penurunan Motivasi Hidup
Kembali ke sosok Zakaria Kamidan, ia lahir pada 23 Desember 1926 di Desa Lubuk Sini, Taba Penanjung. Sebuah wilayah perbukitan yang berhawa sejuk ditambah dengan aliran sungai Rindu Hati yang jernih didepannya melengkapi keindahan tempat ini.
BACA JUGA:Cangkang Telur dan Kulit Pisang Bisa Jadi Pupuk Lho, Mengandung Kalium dan Kalsium
Tahun 1939 Zakaria Kamidan dikirim ayahnya ke Batavia untuk menempuh pendidikan di KWS (Koningin Wilhelmina School) atau Sekolah Teknik Menengah. Ia kost di rumah Anwar Tjokroaminoto (anak HOS Tjokroaminoto) disinilah semangat nasionalismenya makin terasah. Karena di rumah Anwar sering bertemu banyak tokoh pergerakan seperti Haji Agus Salim dan Mr. Muhammad Roem. Waktu itu Anwar bekerja di surat kabar Pemandangan sebagai redaktur pelaksana.
BACA JUGA:Ketahui! Begini Cara Mengolah Daun Jambu Biji Sebagai Obat Alami Sakit Gigi