RAKYATBENGKULU.COM - Kondisi Bendungan Selepah Air Nipis yang kian memprihatinkan kini mengancam kelancaran musim tanam padi di Kecamatan Seginim.
Sedimentasi parah menyebabkan terjadinya pendangkalan hebat, bahkan sekitar tiga hektare area bendungan telah berubah menjadi daratan atau pulau pasir.
Akibatnya, debit air yang mengalir ke saluran irigasi pertanian menyusut drastis.
Kondisi ini menjadi alarm bagi para petani, mengingat musim tanam padi dijadwalkan berlangsung antara Januari hingga Februari 2026.
BACA JUGA:Kuota Haji Bengkulu Utara Turun Drastis, Antrean Kini Capai 50 Tahun
BACA JUGA:Ricuh Lomba Kicau Burung di Bengkulu, Panitia Dilaporkan ke Polda Atas Dugaan Penipuan Rp500 Juta
Menanggapi situasi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan segera mengambil langkah cepat dengan melakukan normalisasi bendungan.
Kepala Dinas PUPR Bengkulu Selatan, Iwan Darmawan, ST, menegaskan bahwa bendungan yang terletak di perbatasan Kecamatan Air Nipis dan Seginim ini memerlukan pemeliharaan rutin berupa pengerukan material batu dan pasir secara terus-menerus.
“Kalau distandby kan alat daerah di bendungan ini mungkin aman adik sanak khusus petani padi,” katanya dikutip KORANRB.ID.
Iwan menyayangkan minimnya pemeliharaan rutin yang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII Bengkulu.
Menurutnya, pembersihan yang hanya dilakukan per enam bulan tidak akan efektif mengatasi laju sedimentasi yang tinggi.
BACA JUGA:Isra Mikraj 1447 H, Menag Serukan Pertobatan Ekologis dan Kepedulian Lingkungan
BACA JUGA:Belungguk Point Jadi Pusat Kreativitas, Pentas Seni Pelajar Padati Malam Minggu Bengkulu
“Kalau dilakukan setiap enam bulan sekali susah juga. Ini kewenangan ini BWS VII. Anggaran begitu fantastis di BWS VII utamakan dulu ini (bendungan),” sambungnya.
Meski secara regulasi berada di bawah wewenang pemerintah pusat (BWS VII), Iwan menegaskan bahwa Pemkab Bengkulu Selatan tidak bisa tinggal diam karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan ketahanan pangan daerah.