Kegigihan dan Optimisme Peserta Difabel Berjuang di SNBT

Kamis 30-04-2026,19:24 WIB
Reporter : Heri Aprizal
Editor : Heri Aprizal

"Jangan ragu untuk mencoba. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin, siapa tahu bisa berhasil dan meraih apa yang diimpikan," katanya.

Sementera itu, satu peserta difabel tuna rungu, Carissa Vania Artamevira juga menggunakan alat bantu pendengaran saat mengikuti UTBK SNBT agar bisa mendengarkan arahan pengawas ujian karena keterbatasan pada pendengarannya.

Pengawas tetap memeriksa alat bantu yang digunakan peserta tunarungu tersebut di ruang transit, dengan menggunakan metal detector, sebelum yang bersangkutan masuk ke ruang ujian karena semua peserta dilarang membawa benda apapun ke ruang ujian.

BACA JUGA:Evaluasi WFH di Mukomuko, Efisiensi Anggaran Belum Terlihat

BACA JUGA:Pemprov Bengkulu Siap Gelar Pasar Murah di 4 Titik, Antisipasi Kenaikan Harga Jelang Idul Adha

Setelah dipastikan alat bantu tersebut hanya untuk membantu peserta dalam hal mendengar karena keterbatasan pendengarannya, maka pengawas mempersilakan peserta disabilitas rungu itu tetap menggunakan alat bantu di telinganya.

Saat pengawas membacakan tata tertib dan arahan, sesuai standar operasional prosedur (SOP) sebelum mengerjakan ujian, Carissa terlihat seperti belum memahami arahan yang disampaikan secara lisan, sehingga pengawas memberikan catatan tersebut agar peserta disabilitas rungu membacanya dengan jelas.

Carissa yang merupakan pelajar asal Jember itu menghadapi tantangan saat mengerjakan soal pengetahuan kuantitatif pada soal UTBK SNBT, namun ia tetap berusaha menyelesaikan ujian dengan maksimal karena ingin melanjutkan studi di bidang psikologi dan berharap impiannya juga terwujud.

Dengan tekad dan kegigihan mengikuti UTBK dengan keterbatasan fisik, ketiga peserta disabilitas, Yogi, Derbian, dan Carissa, menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk tetap bermimpi dan berjuang.

Kehadiran mereka dalam UTBK SNBT di Unej menjadi cerminan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi tekad untuk terus melangkah maju meraih cita-cita.

Optimisme yang mereka tunjukkan tidak hanya memberi semangat bagi diri mereka sendiri, tetapi juga mengingatkan pentingnya pendidikan yang inklusif, terbuka dan ramah bagi semua kalangan.

Tags :
Kategori :

Terkait