Kelima, limbah peternakan dapat dikelola sehingga tidak terbuang percuma.
Menurut Hari, pengelolaan pakan yang tepat juga dapat mendukung pertumbuhan dan peningkatan bobot sapi.
Artinya, petani tidak hanya mengandalkan hasil panen sawit.
Mereka juga memiliki aset ternak yang dapat dikembangkan dan dijual saat membutuhkan pendapatan tambahan.
Mengapa model ini dinilai lebih berkelanjutan?
Integrasi sapi dan sawit membentuk siklus produksi yang saling berkaitan.
Tanaman sawit menyediakan ruang dan sumber pakan bagi ternak.
Sebaliknya, ternak menghasilkan kotoran yang dapat dikembalikan ke kebun sebagai pupuk organik.
Siklus tersebut membuat limbah memiliki nilai ekonomi.
BACA JUGA:India Jadi Pasar Terbesar Bengkulu, Nilai Kiriman Komoditas Capai US$17,33 Juta
BACA JUGA:Ekspor Bengkulu Juli 2026 Meledak 251,97 Persen, Tapi Ada Sektor yang Anjlok
Pemkab Mukomuko berharap petani mulai melihat kebun dan kandang sebagai satu kesatuan usaha.
Dinas Pertanian menilai pola tersebut sesuai dengan pengembangan ekonomi petani berbasis potensi lokal.
“Dua usaha jalan bersamaan dan saling menguatkan, sehingga produktivitas petani bisa naik,” kata Hari.
Jika dikelola secara konsisten, integrasi sapi dan sawit dapat menjadi model usaha yang lebih hemat.
Petani juga berpeluang meningkatkan nilai ekonomi dari lahan yang selama ini hanya digunakan untuk perkebunan sawit.