Di sisi lain, masyarakat perlu mewaspadai kondisi udara kabur di Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Samarinda, Manado, Ambon, dan Merauke.
Palangka Raya, Banjarmasin, serta Jayawijaya juga berpotensi mengalami asap atau kabut yang dapat memengaruhi jarak pandang.
Karena kondisi cuaca dapat berubah, masyarakat sebaiknya memeriksa pembaruan prakiraan sebelum bepergian.
BACA JUGA:4.322 Penerima Bansos di Bengkulu Terindikasi Judol, PKH Tertahan di Bank
BACA JUGA:7 Remaja Diduga Geng Motor Diamankan di Bengkulu, Polisi Sita 3 Celurit
Gelombang Laut hingga 4 Meter Perlu Diwaspadai
BMKG turut mengingatkan nelayan dan pengguna transportasi laut mengenai potensi gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter di Samudra Hindia barat Aceh hingga Lampung serta Samudra Hindia selatan Banten hingga Nusa Tenggara Barat.
Gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko pelayaran.
Oleh karena itu, nelayan dan operator kapal perlu menyesuaikan aktivitas dengan kondisi perairan serta memperhatikan peringatan resmi sebelum berangkat.
Selain itu, masyarakat pesisir perlu mengantisipasi potensi banjir rob di sejumlah wilayah, termasuk pesisir Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan sebagian Maluku.
BACA JUGA:Anggaran Bantuan Nelayan Mukomuko Turun Rp200 Juta, 19 KUB Tetap Kebagian Alat Tangkap
BACA JUGA:4.296 PPPK Paruh Waktu Pemprov Bengkulu Segera Dapat SK Perpanjangan, 47 Tak Masuk Daftar
Masyarakat Diminta Memantau Informasi Cuaca
Meski cuaca kering masih mendominasi secara umum, hujan lebat tetap berpotensi terjadi secara lokal.
Risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan juga perlu mendapat perhatian.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menyesuaikan kegiatan dengan kondisi cuaca, menghindari area berisiko saat terjadi cuaca ekstrem, dan memantau informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG.