HONDA

Kabut Asap Menguatkan Ancaman ISPA

Kabut Asap Menguatkan Ancaman ISPA

Asap yang masuk ke permukiman menimbulkan kekhawatiran karena setiap tarikan napas berpotensi membawa partikel yang dapat mengganggu saluran pernapasan.--ANTARA

Banjarmasin (ANTARA) - Langit biru yang biasanya menjadi penanda cerahnya hari di Banjarmasin perlahan berubah kelabu, beberapa hari belakangan ini di akhir Agustus. Kabut asap membuat udara yang dihirup warga terasa berbeda, sementara masker kembali menjadi perlengkapan penting ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah.

Bagi sebagian warga, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan jarak pandang. Asap yang masuk ke permukiman menimbulkan kekhawatiran karena setiap tarikan napas berpotensi membawa partikel yang dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Kekhawatiran semakin terasa ketika aktivitas sehari-hari harus menyesuaikan dengan kondisi udara. Warga mulai mengurangi kegiatan di luar rumah, menutup pintu dan jendela, serta mengingatkan anggota keluarga agar tidak terlalu lama terpapar asap.

Situasi itu tidak lepas dari meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan  di Kalimantan Selatan yang terjadi saat musim kemarau. Asap dari titik kebakaran berpotensi terbawa angin dan menurunkan kualitas udara hingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Warga Banjarmasin Aulia Handayani mengatakan kabut asap membuat masyarakat semakin waspada karena dampaknya tidak hanya dirasakan ketika berada di luar rumah, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga.

BACA JUGA:Ekoenzim, Solusi Hemat dengan Limbah Bermanfaat

BACA JUGA:Zulhas Targetkan Pembenahan Tata Kelola MBG Sebelum 20 Oktober 2026

"Kalau asap mulai terasa pekat, kami tentu khawatir, terutama untuk anak-anak. Kami berusaha mengurangi aktivitas di luar dan menggunakan masker kalau memang harus keluar," kata Aulia.

Maka, belakangan ini, pintu-pintu rumah di kota itu tertutup.

Masyarakat membutuhkan kondisi udara yang lebih aman agar dapat menjalankan aktivitas tanpa dihantui kekhawatiran terhadap gangguan pernapasan. Upaya pencegahan dinilai harus berjalan bersamaan dengan penanganan kebakaran di lapangan.

Ancaman gangguan pernapasan menjadi salah satu alasan masyarakat perlu lebih disiplin melindungi diri selama kabut asap berlangsung. Penggunaan masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan menjaga sirkulasi udara di dalam rumah menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.

"Kami berharap kebakaran bisa segera ditangani supaya asapnya tidak terus menyebar. Masyarakat juga harus saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan," ujarnya.

BACA JUGA:Prabowo Minta BRIN Bangun Teknologi Desalinasi Penuhi Kebutuhan Air

BACA JUGA:Persiapan Muktamar ke-35 NU di Jombang Capai 85 Persen, Presiden Prabowo Diundang

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: