HONDA

Di Antara Dentum dan Doa: Jalan Sunyi Seorang Jurnalis

Di Antara Dentum dan Doa: Jalan Sunyi Seorang Jurnalis

--

Dalam kerangka itu, pers dituntut mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan masyarakat. Biografi ini secara tidak langsung menegaskan pentingnya kepemimpinan yang memahami dimensi kebangsaan tersebut.

Indonesia dengan lebih dari 270 juta penduduk dan ribuan pulau membutuhkan media yang menjembatani pusat dan daerah. ANTARA, sebagai kantor berita negara, memainkan peran strategis dalam menyebarkan informasi pembangunan hingga ke wilayah terluar. Kepemimpinan yang menempatkan integritas di atas kepentingan sesaat menjadi syarat mutlak.

Buku ini juga membuka refleksi tentang regenerasi pers. Munir berharap kisahnya menjadi penyemangat bagi generasi muda dan insan pers di seluruh Indonesia.

Harapan itu tidak boleh berhenti pada romantisme biografi. Ia perlu diterjemahkan dalam kebijakan konkret. Pendidikan jurnalistik harus diperkuat, literasi media masyarakat ditingkatkan, dan organisasi profesi didorong membangun budaya kolaboratif.

Di tingkat kebijakan, negara perlu memastikan keberlanjutan media berbasis kepentingan publik. Dukungan terhadap media yang menjalankan fungsi edukatif dan pemberdayaan harus menjadi prioritas, tanpa mengurangi independensi redaksi. Sementara itu, insan pers perlu memperkuat disiplin etik dan verifikasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Langkah sunyi yang diceritakan buku ini pada akhirnya bukan hanya kisah personal. Ia adalah cermin bagi ekosistem pers Indonesia. Dari rumah sederhana di Sumenep hingga panggung kepemimpinan nasional, perjalanan Munir menunjukkan bahwa integritas adalah proses panjang, bukan hasil instan.

Rock n' roll memberi energi. Jurnalisme memberi arah. Di persimpangan keduanya, lahir keyakinan bahwa suara yang jujur tetap menemukan jalannya. Pertanyaannya kini bukan lagi bagaimana mencapai puncak, melainkan bagaimana menjaga kepercayaan publik agar tidak runtuh.

Di situlah langkah sunyi menjadi relevan, bukan sebagai kisah masa lalu, tetapi sebagai kompas masa depan pers Indonesia.

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: