Di Antara Dentum dan Doa: Jalan Sunyi Seorang Jurnalis
--
Jika dibaca lebih dalam, pengalaman bermusik adalah latihan menghadapi publik. Di atas panggung, seorang musisi belajar mengelola emosi, menerima kritik secara langsung, bahkan menghadapi penolakan.
Ia dituntut tetap berdiri tegak ketika sorakan tak selalu ramah. Ketika kelak memasuki ruang redaksi, pelajaran itu menjelma keberanian menyampaikan fakta, sekalipun tidak populer. Ada kesinambungan antara keberanian memetik gitar di hadapan massa dan keberanian menulis berita yang mungkin mengguncang kepentingan.
Transformasi dari musik ke jurnalisme menunjukkan bahwa integritas tidak selalu lahir dari jalur lurus. Ia kerap tumbuh dari pergulatan identitas, dari fase pencarian yang kadang bising dan penuh eksperimen.
Dalam konteks generasi muda yang akrab dengan budaya populer dan media sosial, kisah ini terasa relevan. Kreativitas dan idealisme tidak harus dipertentangkan. Energi kreatif dapat diarahkan menjadi kekuatan advokasi publik, selama ditopang nilai yang kokoh.
Dunia jurnalistik kemudian menjadi ruang pengabdian Munir. Ia melewati fase reporter lapangan, berpacu dengan tenggat, menyusuri lokasi peristiwa, dan berhadapan dengan tekanan yang tak jarang menguji ketahanan pribadi.
Di sanalah sekolah integritas berlangsung. Ia memahami bahwa berita bukan sekadar produk informasi yang dikejar demi kecepatan, melainkan tanggung jawab moral yang berdampak pada persepsi publik. Setiap kata memiliki konsekuensi, setiap judul memengaruhi cara masyarakat memahami realitas.
Dalam konteks Indonesia yang terus memperkuat demokrasi, gagasan ini menjadi krusial. Kepercayaan publik terhadap media adalah fondasi demokrasi yang sehat. Tanpa kepercayaan, pers kehilangan legitimasi moralnya.
Buku ini secara implisit mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya tekanan eksternal seperti intervensi kekuasaan atau arus disinformasi, tetapi juga godaan internal. Komersialisasi berlebihan, kecepatan tanpa verifikasi, serta fragmentasi organisasi menjadi ujian yang tak kalah berat.
Munir digambarkan memaknai kepemimpinan bukan sebagai simbol struktural atau sekadar jabatan, melainkan sebagai teladan integritas. Ia menempatkan nilai di atas popularitas dan konsistensi di atas sensasi.
Perspektif ini terasa penting ketika organisasi profesi wartawan kerap diuji oleh perbedaan kepentingan dan dinamika internal. Dari dentuman Rock n’ Roll hingga sunyi ruang redaksi, perjalanan itu memperlihatkan satu benang merah: keberanian bersuara harus selalu disertai tanggung jawab menjaga kebenaran.
BACA JUGA:Pemkab Mukomuko Anggarkan Rp561 Juta untuk Kesejahteraan Petugas Kebersihan 2026
BACA JUGA:Sabtu Bertabur Cuan! Inilah 5 Zodiak yang Paling Hoki Hari Ini
Jalan sunyi
Istilah langkah sunyi menjadi benang merah biografi ini. Jalan sunyi adalah metafora tentang konsistensi tanpa gemerlap. Ia mengajarkan bahwa keteguhan lahir dari kesederhanaan dan kesabaran.
Munir memandang setiap amanah sebagai tanggung jawab menjaga nilai dan kepercayaan. Di tengah era serba instan, pesan ini terasa kontras namun menenangkan.
Saat memimpin kantor berita negara dan organisasi wartawan, Munir menghadapi realitas bahwa pers bukan hanya industri, tetapi institusi publik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

