baner honda 2022
yamaha 2022
PRAMUKA 2022

Malang di Kota Malang

Malang di Kota Malang

Zacky Antony--dokumen/rakyatbengkulu.disway.id

 

HARI sudah gelap ketika kami, rombongan kontingen Porwanas Bengkulu memasuki Kota Malang, Minggu 20 November 2022. Jarum jam menunjukkan pukul 22.10 WIB. Kegelapan itu seolah sedang menyiratkan kesedihan masyarakat di kota berpenduduk 843.810 jiwa ini. Pun kegemerlapan lampu-lampu di ketinggian Kota Batu tak mampu menerangi kegelapan jiwa para Aremania yang sedang berduka. 

Pendukung Singo Edan memang sedang terluka. Teramat dalam. Ini menyangkut nyawa 137 anak manusia. Harga ratusan nyawa itu terlampau mahal. 

Pagi di hari yang sama saya dan rombongan tiba di kota tersebut, ribuan Aremania ----julukan untuk suporter Arema Malang--- menggelar aksi turun ke jalan. Mereka memblokir jalan-jalan utama di Kota Malang. Jeritan hati mereka diwakili oleh 137 mobil ambulance yang ikut serta dalam aksi tersebut. Jumlah ambulance sama dengan jumlah korban dalam tragedi kanjuruhan. Empat orang tersangka yang telah ditetapkan pihak kepolisian dalam tragedi memilukan ini, belum mampu mengobati luka yang menyesakkan hati itu. 

Ratusan nyawa yang hilang tidak bisa dikembalikan. Yang menjadi korban gas air mata maut di lapangan sepakbola itu adalah tunas-tunas muda. Rata-rata berumur belasan tahun. Ada pula balita.  Karena itu para Aremania juga mengusung  keranda mayat ke halaman balai kota. Jumlah keranda juga sejumlah korban tewas; 137.

Dari dalam mobil, kami masih bisa melihat puluhan spanduk terpampang di tepi-tepi jalan utama. Bunyi spanduk beraneka ragam. Intinya meminta usut tuntas tragedi kanjuruan. Pada siang harinya, spanduk-spanduk itu terlihat makin banyak di berbagai sudut kota. Sepanjang perjalanan dari Kota Malang menuju Kota Batu, saya mencatat puluhan spanduk dipasang Aremania. 

Air mata masyarakat Kota Malang tumpah pada Minggu 1 Oktober 2022, saat pertandingan sepakbola antara Arema FC selaku tuan rumah versus Persebaya Surabaya. Laga digelar di Stadion Kanjuruhan. Malam hari. Seperti biasa, atmosfer derbi Jatim ini selalu dalam tensi tinggi. Kedua tim sama-sama punya suporter fanatik. Bonek, suporter Persebaya selain fanatik, juga dikenal nekat. Ribuan Bonek sudah biasa naik hingga memenuhi atap gerbong kereta api menuju kota-kota yang disinggahi Persebaya untuk bertanding. Karena itu mereka disebut bondo nekat.

Aremania tidak kalah fanatiknya. Bagi mereka, Arema FC boleh kalah dengan klub lain. Tapi tidak melawan Persebaya. Rivalitas kedua tim kurang lebih sama levelnya antara Persija Versus Persib Bandung. Atau derbi London antara Chelsea Vs Arsenal, derbi Manchester antara MU Vs Manchester City atau derbi Milan antara AC Milan Vs Inter.

Namanya saja derbi, bentrok antar suporter tidak terhitung lagi. Tapi yang terjadi kali ini berbeda. Ini bukan bentrok antar suporter. Sebab, laga tersebut tertutup untuk Bonek. Panitia sudah memprediksi potensi keributan antar supporter. Karena itu, Bonek dilarang masuk stadion.

Tragedi dimulai ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan antara Arema FC dan Persebaya selesai. Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Surabaya. Sejumlah Aremania yang kecewa dengan kekalahan timnya, spontan turun ke lapangan. Makin lama yang tumpah ruah ke lapangan semakin banyak. Aparat keamanan mencoba menghalau dengan menyemprotkan gas air mata. 

Dari sinilah awal tragedi. Semprotan gas air mata itu membuat panik ribuan penonton, termasuk yang ada di tribun. Mereka berhamburan menyelamatkan diri. Menumpuk ke pintu 3, 11, 12, 13 dan pintu 14. Tapi pintu-pintu itu tertutup. Belum sepenuhnya dibuka. Atau hanya terbuka 1,5 meter. Steward yang menjaga pintu tidak berada di tempat. Pada akhirnya, ribuan penonton berdesak-desakan. Terinjak-injak. Berebutan keluar stadion dari pintu yang terbuka sedikit.

Semua sudah tahu; keesokan harinya diketahui 134 orang meninggal sia-sia.  Beberapa hari kemudian jumlahnya terus bertambah hingga 137 orang. Ratusan kematian bukan di arena pertempuran adalah tragedi. Ironinya lagi arena kematian itu justru berada di dalam stadion sepakbola. Sebuah arena yang mestinya menjunjung tinggi sportifitas. Motto yang diusung setiap kali porwanas.

Nyawa tunas-tunas muda itu tidak bisa tergantikan, meski dengan penetapan puluhan tersangka sekalipun. Mereka adalah remaja-remaja yang malang di Kota Malang. 

Catatan Zacky Antony

Penulis adalah wartawan senior yang juga Ketua Dewan Kehormatan PWI Provinsi Bengkulu

Sumber: