Lalu, memanfaatkan hasil potensi teknologi batu bara cair (liquified coal) dan batu bara tergaskan (gasified coal) untuk pemanfaatan batu bara kalori rendah yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia, serta secara teoritis sangat sulit digunakan sebagai bahan bakar PLTU.
Program tersebut telah dimulai dengan proyek percontohan yang sedang dilakukan oleh PLN Puslitbang bekerja sama dengan salah satu pengembang di Karawang.
Ke depan penggunaan mineral fosil seperti nikel, bauksit, timah, dan batu bara yang dimiliki Indonesia difokuskan untuk memberikan nilai tambah perekonomian (Economic Value Added/EVA) melalui hilirisasi.
BACA JUGA:Kelebihan Ekosistem Apple, Ini Rahasia iPhone Tetap Nyaman untuk Jangka Panjang
BACA JUGA:4 iPhone yang Paling Keren untuk Anak Muda di Tahun 2025, Berikut Spesifikasinya!
Batu bara misalnya, mineral ini dalam strategi yang ditetapkan pemerintah bakal difokuskan hilirisasi untuk menghasilkan produk metanol dan dimethyl ether (DME) yang diperuntukkan memenuhi kebutuhan gas minyak cair (Liquefied Petroleum Gas/LPG) untuk masyarakat.
Selanjutnya nikel, mineral tersebut tengah dikembangkan untuk menghasilkan produk sel baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang bisa memberikan kontribusi besar terhadap ekspor Indonesia, sekaligus mengurangi emisi karbon di sektor transportasi.
Melalui cara ini Indonesia secara berangsur akan mengurangi energi fosil sebagai kontributor utama pasokan energi nasional, tanpa harus mengorbankan kontribusi sektor mineral dan batu bara terhadap pemajuan ekonomi.
Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan strategi transisi energi yang terencana, Indonesia berada di titik krusial untuk menentukan masa depannya.
BACA JUGA:5 Cara Membuat Masker Wajah dari Beras untuk Kulit Cerah dan Sehat
Upaya mewujudkan net zero emissions pada tahun 2060 tidak hanya menjadi tanggung jawab global, melainkan juga peluang untuk menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan inklusif.
Namun, perjalanan ini membutuhkan komitmen kuat, inovasi teknologi, dan keberanian untuk beradaptasi dengan tantangan domestik dan internasional.
Dengan memanfaatkan potensi EBT, memprioritaskan hilirisasi mineral, dan menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, Indonesia bisa menjadi model transisi energi yang efektif di antara negara-negara berkembang.
Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia dalam mengurangi emisi karbon seraya mempertahankan pertumbuhan ekonomi akan menjadi cerminan dari visi bangsa: maju dengan kekuatan lokal, berpikir global, dan menjaga warisan bumi untuk generasi mendatang.
Langkah ini bukan hanya kewajiban, tetapi juga sebuah warisan yang layak diperjuangkan.