Angka tersebut merupakan akumulasi penanganan di Kecamatan Ipuh, Sungai Rumbai, Teramang Jaya, Selagan Raya, Air Dikit, hingga Kota Mukomuko.
Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Teramang Jaya mencatat tingkat kematian ternak tertinggi, sehingga menjadi fokus utama dalam pengendalian.
Di wilayah ini, petugas harus bekerja lebih intensif karena banyaknya hewan yang terinfeksi dalam waktu bersamaan.
Selain penanganan medis, Dinas Peternakan juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat.
BACA JUGA:Pemkab Seluma Ajukan Rp200 Miliar untuk Perbaikan Sekolah dan Digitalisasi Pendidikan 2026
BACA JUGA:Saat Kulit Butuh Tampilan Fresh & Glowing Sepanjang Hari, Cushion Ini Jadi Jawaban Paling Praktis
Penyuluh dan tenaga kesehatan hewan turun langsung ke lapangan untuk memberikan pemahaman tentang gejala, pencegahan, serta langkah cepat jika ternak menunjukkan tanda-tanda Ngorok.
"Kami tidak hanya mengobati yang sakit. Setiap turun ke lapangan, kami juga memberikan edukasi agar peternak lebih waspada dan mampu mengambil tindakan cepat. Pendekatan ini cukup efektif dalam memutus rantai penyebaran," ungkap Diana.
Dengan tidak adanya kasus baru dalam beberapa waktu terakhir, Dinas Peternakan berharap kondisi tetap stabil.
"Peternak diimbau tetap memperhatikan kebersihan kandang, pola pakan, dan rutin melapor jika muncul gejala yang mencurigakan agar penanganan bisa dilakukan sejak dini," tutupnya.