Dr. Ahmad Walid, M.Pd.
Ketua Pengurus Ana Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Singaran Pati Kota Bengkulu
RAKYATBENGKULU.COM- Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan pesantren.
Ketika dunia semakin sibuk merayakan keberhasilan individu, pesantren justru merawat kebiasaan yang berbeda: bekerja bersama.
Para santri membersihkan lingkungan, berbagi makanan, membantu teman, hingga menyelesaikan berbagai urusan tanpa selalu menghitung keuntungan pribadi.
Kebersamaan bukan sekadar pelajaran, melainkan pengalaman yang dijalani setiap hari.
Kebiasaan sederhana itu menyimpan pesan penting bagi kehidupan bangsa.
Di tengah menguatnya individualisme, melemahnya solidaritas, dan semakin rumitnya persoalan sosial, gotong royong menjadi kekuatan yang tidak boleh kehilangan tempatnya.
Peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, menemukan relevansinya di sini.
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan ini mengajak kita membaca kembali peran santri, bukan hanya sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial.
Pertanyaannya, bagaimana semangat kebersamaan yang tumbuh di pesantren dapat menjadi jalan pemberdayaan masyarakat?
Warisan Kebersamaan
Sejarah mencatat bahwa santri tidak pernah benar-benar terpisah dari perjalanan bangsa.
Resolusi Jihad yang diserukan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu penanda penting keterlibatan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.