Santri, Gotong Royong, dan Jalan Pemberdayaan

Jumat 23-10-2026,16:41 WIB
Reporter : Peri Haryadi
Editor : Peri Haryadi

Meski demikian, solidaritas saja tidak cukup. 

Ia membutuhkan pengetahuan, keterampilan, pengelolaan yang profesional, dan keberanian melakukan pembaruan.

Di sinilah pesantren perlu mempertemukan kekuatan tradisi dengan tuntutan zaman. 

Kesalehan sosial harus berjalan bersama kecakapan ekonomi dan penguasaan teknologi.

Jalan Pemberdayaan

Pemberdayaan sering disalahpahami sebagai kegiatan memberikan bantuan. 

Padahal, bantuan belum tentu membuat seseorang berdaya. 

Bahkan, apabila tidak dikelola dengan baik, bantuan dapat melahirkan ketergantungan baru. 

Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan menawarkan pelajaran penting. 

Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami kenyataan, menyadari persoalannya, dan memiliki kemampuan mengubah keadaan.

Dalam konteks pesantren, pemberdayaan berarti mengembangkan kemampuan santri dan masyarakat untuk menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar penerima program.

Santri dapat mengambil peran melalui koperasi pesantren, pendampingan usaha mikro, pengembangan pertanian, pengelolaan lingkungan, maupun peningkatan literasi digital masyarakat.

Namun, program semacam itu tidak boleh hadir dengan anggapan bahwa masyarakat tidak memiliki pengetahuan. 

Warga justru harus dilibatkan sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian hasilnya. 

Gotong royong yang sehat berdiri di atas kesetaraan, bukan hubungan antara pihak yang merasa paling mampu dan mereka yang dianggap selalu membutuhkan pertolongan.

Menguatkan Negeri

Tags :
Kategori :

Terkait