Santri, Gotong Royong, dan Jalan Pemberdayaan

Jumat 23-10-2026,16:41 WIB
Reporter : Peri Haryadi
Editor : Peri Haryadi

Namun, zaman telah berubah. Jika dahulu perjuangan menuntut keberanian menghadapi penjajahan, hari ini pengabdian menemukan tantangan berbeda: kemiskinan, ketimpangan pendidikan, pengangguran, dan keterbatasan akses ekonomi. 

Semangat perjuangannya tetap sama, meskipun medan pengabdiannya berubah. 

Pesantren sesungguhnya memiliki bekal sosial yang berharga. 

Kehidupan bersama mengajarkan santri tentang tanggung jawab, kesederhanaan, kepedulian, dan kesediaan mendahulukan kepentingan kolektif.

Dalam Islam, nilai tersebut dekat dengan konsep ta'awun, yakni saling menolong dalam kebaikan. Al-Qur'an melalui Surah Al-Ma'idah ayat 2 menegaskan pentingnya kerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan.

Akan tetapi, gotong royong tidak cukup dipelihara sebagai romantisme masa lalu. 

Tradisi yang hanya dibanggakan, tetapi tidak dikembangkan, perlahan dapat kehilangan maknanya.

Modal Sosial

Sosiolog Robert Putnam menjelaskan pentingnya modal sosial berupa jaringan, kepercayaan, dan norma yang memungkinkan masyarakat bekerja sama. 

Dalam perspektif ini, pesantren memiliki potensi besar karena kebersamaan telah menjadi bagian dari kehidupan kelembagaannya. 

Hubungan santri, kiai, alumni, dan masyarakat membentuk jaringan sosial yang dapat digerakkan untuk kepentingan lebih luas. 

BACA JUGA:Abad Kedua NU: Dari Kekuatan Massa Menuju Kedaulatan Ekonomi

BACA JUGA:Islam dan Kemiskinan; Quo Vadis?

Jaringan tersebut bukan hanya sarana menjaga silaturahmi, melainkan juga membuka peluang kerja sama ekonomi, pendidikan, dan pelayanan sosial.

Bayangkan apabila jaringan alumni pesantren mampu menghubungkan petani dengan pasar, pelaku usaha kecil dengan teknologi digital, atau keluarga kurang mampu dengan kesempatan pendidikan. 

Gotong royong tidak lagi berhenti pada kerja bakti, tetapi berkembang menjadi kekuatan pemberdayaan. 

Tags :
Kategori :

Terkait