HONDA

Perjuangan GBD, Gaji Rp 600 Ribu, Lalui Jalan Lumpur hingga Pakai Rakit

Perjuangan GBD, Gaji Rp 600 Ribu, Lalui Jalan Lumpur hingga Pakai Rakit

BENTENG - Perjuangan Guru Bantu Daerah (GBD) di SDN 39 dan SMPN 22 Desa Tanjung Raman Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) harus diberikan apresiasi.

Semua ini harus dilakukan. Mengingat perjuangan mereka dalam mengajar dan mencerdaskan anak berbeda, dengan guru yang berada di desa bahkan daerah lain.

Mereka harus berjuang dan bertaruh nyawa dalam menjalan tugas mulia mereka tersebut.

Salah seorang guru Penjaskes SMPN, Jumadil menjelaskan, untuk melewati akses jalan 3,8 km yang sangat tidak layak.

Penuh dengan lumpur dan kondisi jembatan yang sudah tertutup dengan arus air sungai.

Harus membuat para guru yang mengajar di SD dan SMP tersebut, harus berjuang untuk menuju sekolah mereka.

Apalagi akses menuju sekolah sudah tidak bisa dilalui dengan motor atau mobil yang standar.

"Kita biasanya menuju sekolah harus menunggu dan menumpang mobil double gardan pengangkut batu bara yang akan mengambil batu bara. Namun di saat pulang kita harus pulang jalan kaki dari sekolah hingga ke tempat penitipan motor kita yang berada di depan gang," jelasnya

Lanjutnya, bahkan di saat hujan deras dan kondisi jalan sudah tergenang oleh air luapan sungai yang berada di lokasi, mobil sudah tidak bisa melewati akses jalan tersebut.

Dengan kondisi seperti ini terpaksa para guru menggunakan rakit warga yang berada di tepi sungai tersebut.

Namun apabila rakit tersebut tidak ada, maka dengan sangat para guru tidak bisa mengajar.

"Kondisi jalan Desa Tanjung Raman ini sebenarnya sudah banyak diketahui oleh orang, baik itu anggota DPRD hingga Pemkab Benteng. Namun kita tidak mengetahui secara pasti mengapa akses di jalan tersebut tidak kunjung diperbaiki. Sedangkan akses jalan di desa tersebut sudah sangat tidak layak lagi, baik itu penuh lumpur, banjir karena luapan air dan sebagainya," tegasnya

Bahkan ia bercerita sudah menjadi GBD sejak tahun 2007 yang lalu dan mengajar di SMP tersebut sudah tiga tahun terakhir ini.

Dengan gaji GBD yang hanya Rp 600 ribu selama satu bulan, ia mengaku sebenarnya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun semua ini ia tetap jalankan karena sudah menjadi cita-citanya, untuk mencerdaskan anak bangsa dan sudah menjadi tanggungjawabnya.

"Dengan kondisi seperti ini, kita para guru yang mengajar di kawasan Desa Tanjung Raman, berharap agar Pemkab Benteng bisa memperbaiki akses jalan tersebut. Kita tidak meminta apapun, namun tolong perbaiki jalan tersebut, agar kita tidak sengsara. Apabila jalan tersebut diperbaiki akan berdampak banyak bagi warga di Desa tersebut, baik itu dari peningkatan mutu pendidikan hingga roda perekonomian di Desa tersebut," ujarnya

Hal Senada juga disebutkan oleh, Guru SDN 39, Agus Aprianto yang sudah menjadi GBD sejak tahun 2005.

Ia mengungkapkan, jika akses jalan menuju Desa Tanjung Raman tersebut memang sudah tidak layak dan sangat memprihatikan.

Namun meskipun kondisi akses jalan seperti itu, ia tetap semangat dan menjadi motivasi baginya untuk selalu mengajar siswa di sekolahnya.

Selain memang ia hobby tantangan, mengajar dan mencerdaskan anak bangsa sudah menjadi tanggungjawabnya.

"Namun tentu saja kita tetap berharap agar jalan tersebut bisa segera diperbaiki. Tidak hanya kita para guru, semua warga di Desa tersebut juga sudah sangat berharap jalan tersebut diperbaiki. Kondisi jalan lumpur, air sungai meluap yang memang tidak bisa dilalui dengan kendaraan motor lagi dan harus mobil double gardan. Terkadang apabila mobil tersebut tidak ada, maka kita harus jalan untuk melewati akses tersebut," bebernya.

Perjuangan GBD ini pun akan tidak hanya sebatas jalan berlumpur, namun di saat air sungai sudah sangat meluap dan tidak bisa dilalui oleh mobil.

Semua guru di sana harus berjuang melewati akses jalan tersebut dengan menggunakan rakit.

Bahkan para guru yang mengajar di sana, harus menyediakan pakaian dan sepatu ganti.

Agar dalam mengajar tetap menampilkan penampilan terbaik di depan siswa.

"Kalau bicara soal gaji yang hanya Rp 600 ribu selama satu bulan, sebenarnya sangat tidak mencukupi. Namun kita hanya berharap ada perhatian khusus bagi Pemkab untuk kita yang mengajar di Desa Tanjung Raman. Dengan memperbaiki akses jalan tersebut. Sebab apabila jalan tersebut sudah diperbaiki, maka akan menjadi kebanggaan bagi kita dan warga di sana. Kemudian memberikan perhatian khusus bagi kita GBD," Pungkasnya. (jee)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: