Islam dan Kemiskinan; Quo Vadis?
Islam dan Kemiskinan menjadi perhatian bersama. Syaiful Anwar mengemukakan, data BPS menunjukkan kemiskinan masih menjadi tantangan nasional. Dalam Islam, pengentasan kemiskinan menuntut sinergi pemerintah, masyarakat, zakat, infak, dan pembangunan ekonom--Screenshot/rakyatbengkulu.com
Dr. Drs. Syaiful Anwar. AB;SU
Alumni Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
RAKYATBENGKULU.COM - Negara ini sedang menghadapi tantangan yang cukup besar, yaitu masih ada rakyat miskin dan jumlahnya tidak sedikit.
Angka statistik menyatakan tingkat kemiskinan di Indonesia sekarang tercatat sebesar 8,25 persen (atau sekitar 23,36 juta orang) per September 2025.
Angka ini mencakup wilayah perkotaan di angka 6,60 persen dan perdesaan di 10,72 persen.
Data ini mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggunakan standar kebutuhan dasar minimum makanan (setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari) dan kebutuhan pokok bukan makanan.
BACA JUGA:Kedudukan dan Yurisdikasi ICC Terkait Perintah Penangkapan Terhadap PM Israel Benjamin Netanyahu
BACA JUGA:Jangan Tebang Pohon! Perdagangan Karbon Adalah Masa Depan Ekonomi Hijau Surabaya dan Jawa Timur
Tingkat kemiskinan di Indonesia sendiri bervariasi antar daerah.
Sebagai konteks lokal untuk kita ketahui bahwa di Propinsi Bengkulu, persentase penduduk miskin di provinsi ini berada di angka 11,88 persen pada periode yang sama.
Sebagaimana diketahui pula, bahwa penduduk muslim Indonesia cukup besar, hampir 90 persen adalah penduduk muslim.
Kemudian islam memberi petunjuk bahwa kemiskinan itu harus diberantas, dan inilah ayat ayat yang mendukung.
Al-Qur'an memandang kemiskinan sebagai masalah yang harus diselesaikan melalui redistribusi kekayaan dan tanggung jawab sosial.
Pertanyaannya apakah sepenuhnya tugas pemerintah?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


