Harmoko

Senin 05-07-2021,23:00 WIB
Reporter : redaksi rb
Editor : redaksi rb

  SAYA tidak mengenal secara pribadi dengan Harmoko. Latarbelakang sama-sama wartawan menginspirasi saya menulis tentang sosok yang terkenal dengan “Hari-hari Omong Kosong” tersebut. Kebetulan, dulu saat masih Pemred di Harian Rakyat Bengkulu, saya juga punya wartawan namanya Harmoko. Ketika proyeksian berita tidak dapat, secara guyon tapi serius, saya sering ngomong, “Kamu ini benar-benar Harmoko, hari-hari omong kosong.” Tokoh-tokoh orba memang dikenal punya julukan yang melekat pada sosok masing-masing. Adam Malik terkenal dengan kalimat “semua bisa diatur.” Nah, Harmoko terkenal dengan kalimat “Atas Petunjuk Bapak Presiden.” Kebetulan keduanya sama-sama berlatarbelakang wartawan. Harmoko sempat diprediksi mengikuti jejak Adam Malik menjadi Wapres. Tapi pak Harto ternyata lebih memilih BJ. Habibie. Tagline "Atas petunjuk bapak presiden" mengiringi langkah Harmoko hingga lengser keprabon diterjang arus gelombang reformasi 1998. Julukan itu bahkan terus melekat sampai akhir hayatnya Minggu 4 Juli lalu. Banyak postingan di media sosial menulis “Harmoko, Atas Petunjuk Bapak Presiden, Wafat.” Ada yang bersimpati, turut berduka dan memanjatkan doa. Ada pula yang menulis postingan bernada sinis. Itu sudah menjadi risiko menjadi pejabat publik. Dipuja dan dicaci. Dicintai sekaligus dibenci. Saya masih mahasiswa saat Harmoko berada di puncak karir menjadi ketua Umum Golkar dan Ketua DPR/MPR tahun 1997-1998. Semua mafhum, di ujung rezim orba, kebencian mahasiswa sangat membuncah terhadap tokoh-tokoh orba. Harmoko adalah salah satu orang sangat dekat dengan Soeharto. Jabatan Menteri Penerangan selama 14 tahun menjadi bukti dia adalah tangan kanan Soeharto. Dia adalah jubir tak tergantikan penguasa orde baru tersebut. Saya ingat betul…pernah suatu malam ketika sedang berkumpul sesama aktivis menonton televisi (TVRI), berdiskusi sambil ngopi. Seorang teman langsung mematikan televisi saat muncul gambar Harmoko di layar tv. Dia adalah tokoh kedua identik dengan rezim orba setelah Soeharto sendiri. Kemuakan pertama mahasiswa muncul menjelang Sidang Umum MPR Maret 1998. Ketika itu Harmoko di televisi berkata-kata (omong kosong) dan dikutip sejumlah surat kabar, dirinya sudah keliling berbagai pelosok Indonesia. Kesimpulannya; rakyat Indonesia masih menginginkan pak Harto menjadi presiden lagi. Untuk yang ketujuh kali. Baca Selanjutnya >>>

Tags :
Kategori :

Terkait