Ketika Jalanan Bergemuruh, Suara HAM Tak Boleh Padam

Senin 01-09-2025,16:45 WIB
Reporter : Heri Aprizal
Editor : Heri Aprizal

Di luar itu, banyak pertanyaan publik tak terjawab: bagaimana kondisi mahasiswa pasca-penangkapan? Apakah mereka mendapat pendampingan hukum? Bagaimana nasib korban luka?

Di titik itulah, peran jurnalis dalam melaporkan isu HAM diuji. Menggali suara mahasiswa, keluarga, pengacara, hingga organisasi masyarakat sipil menjadi kunci untuk menyajikan gambaran yang utuh dan berimbang.

BACA JUGA:Prabowo Minta DPR Undang Demonstran untuk Dialog Tatap Muka

BACA JUGA:Polres Mukomuko Gelar Patroli Skala Besar Usai Aksi Demo, Antisipasi Gangguan Kamtibmas


Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch sekaligus jurnalis senior Indonesia saat menyampaikan materi pada forum daring Voices of Tomorrow: Where Young Journalists Meet Editorial Wisdom.--dokumen/rakyatbengkulu.com

Andreas Harsono menekankan bahwa di Indonesia, liputan HAM kerap diwarnai risiko.

“Meliput isu HAM di Indonesia bukan hanya soal mencari fakta, tetapi juga menghadapi stigma. Wartawan bisa dicap provokator, bisa diintimidasi, bahkan dikriminalisasi. Karena itu, penting bagi jurnalis untuk tetap berpegang pada etika dan disiplin verifikasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberanian saja tidak cukup tanpa kehati-hatian.

“Jurnalis harus punya keberanian untuk menulis yang tidak disukai penguasa, tapi juga kehati-hatian agar tidak menjadi corong propaganda kelompok tertentu. Keseimbangan itu yang membuat jurnalisme dipercaya publik,” ujar Andreas.

Pernyataan Andreas memperkuat pesan Devjyot bahwa human rights reporting selalu menuntut kombinasi: keberanian untuk tetap bersuara, dan kerendahan hati untuk menguji setiap informasi.

BACA JUGA:Pengawasan Diperketat Pasca Demo, Polisi Siagakan Kendaraan Taktis di Halaman DPRD Provinsi Bengkulu

BACA JUGA:Demo Batal, Aliansi Mukomuko Bangkit Temui DPRD Sampaikan 5 Tuntutan

Human rights reporting bukan sekadar liputan, melainkan juga panggilan etis untuk melindungi suara yang sering terpinggirkan.

Baik di India maupun Indonesia, jurnalis dituntut untuk tetap setia pada kebenaran meski menghadapi represi, tekanan, atau ketertutupan informasi.

“Demokrasi bisa mati tanpa jurnalis yang berani. Tapi demokrasi juga bisa rusak kalau jurnalis tidak hati-hati,” ujar Andreas Harsono, menutup pesannya.

Pada akhirnya, demokrasi hanya bisa tumbuh ketika pers berani menyalakan lilin di tengah gelapnya informasi. Karena di medan HAM, keberanian jurnalis bukan hanya soal menyampaikan berita, melainkan memastikan bahwa setiap manusia tetap dipandang sebagai manusia.

Kategori :