Saat ini, mayoritas siswa di SB berasal dari latar belakang Islam dan Kristen. Materi keagamaan diajarkan oleh tenaga pengajar yang tersedia, dengan harapan dapat membentuk karakter dan nilai-nilai moral yang baik.
BACA JUGA:Mbappe Borong Dua Gol, Los Blancos Tak Terbendung di Valencia
BACA JUGA:Satpol PP Siap Tindak Pelajar Nongkrong dan Bolos di Jam Belajar
Kehadiran SB dinilai sangat berpengaruh positif dalam pembentukan karakter anak-anak PMI, terutama bagi mereka yang tidak memiliki dokumen sah, sehingga tidak dapat mengakses pendidikan formal di Malaysia.
Selain mengikuti kurikulum yang disesuaikan dengan sistem pendidikan Indonesia, siswa juga mendapatkan pendidikan wawasan kebangsaan, dan penguatan identitas sebagai WNI, baik dari pengajar rutin maupun akademisi yang melakukan pengabdian masyarakat.
Menurut Wanton, secara umum orang tua siswa di SB Permai Penang, SB Permai Kulim, SB AMI, dan SB Al Rahmah memberikan dukungan kuat dengan tetap mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar.
Hanya saja, di SB Permai Kulim, terdapat beberapa orang tua yang mulai enggan mengikutsertakan anaknya, meskipun biaya iuran relatif terjangkau, yaitu RM50 per bulan per anak. Salah satu tantangan utama yang dihadapi SB adalah keterbatasan sarana-prasarana, seperti kebutuhan perbaikan gedung.
BACA JUGA:Kapal Karam di Laut Bengkulu, 1 Nelayan MD dan 1 Masih Hilang, Pencarian Diperluas
BACA JUGA:Puluhan Randis Dilelang, Pemkab Lebong Targetkan PAD Rp2 Miliar
Hingga saat ini, belum ada masalah serius yang dilaporkan oleh pengurus SB kepada KJRI Penang, namun KJRI siap berkoordinasi dengan Atdikbud KBRI KL dan pihak terkait lainnya untuk membantu mengatasi berbagai kendala, terutama terkait pemenuhan kebutuhan fasilitas pembelajaran.
Dengan dukungan yang berkelanjutan, diharapkan SB dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih besar bagi anak-anak PMI di Malaysia.
Berbagai upaya yang telah dan terus dilakukan KBRI dan perwakilan RI di Semenanjung Malaysia dalam memastikan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran harus mendapat dukungan dari seluruh pihak di tanah air.
Tidak hanya di Malaysia, pemenuhan akses pendidikan serupa juga harus diberikan negara kepada anak-anak pekerja migran lain di berbagai belahan dunia lainnya.