HONDA

Muhartini Salim (62), Profesor Pertama FEB Universitas Bengkulu

 Muhartini Salim (62), Profesor Pertama FEB Universitas Bengkulu

MUHARTINI SALIM--

Berhasil menjadi profesor perempuan pertama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bengkulu (Unib). Prof. Dr. Muhartini Salim, SE, MM membuktikan bahwa ia mampu menempuh pendidikan setinggi-tingginya seperti halnya laki-laki.

Bagaimana kisahnya, simak liputannya

 

MERAIH jabatan profesor atau guru besar di suatu institusi pendidikan, bukanlah hal mudah. Menjadi seorang pakar pada konsentrasi keilmuan tertentu, adalah puncak bagi seorang dosen.

Tentunya, butuh proses yang panjang lagi susah. Walau di era sekarang, memang sudah banyak guru besar, bisa dibilang hampir setiap kampus di Indonesia itu sudah ada.

Tapi beda halnya, bila yang menjadi guru besar itu adalah seorang perempuan. Artinya ia berhasil membuktikan bahwa ia mampu menempuh pendidikan setinggi-tingginya seperti halnya laki-laki. Itulah yang menjadi capaian Prof. Dr. Muhartini Salim, SE, MM.

BACA JUGA: Para Penyepuh Emas Pasar Minggu Tetap Bertahan dari Perkembangan Zaman

Ia dikukuhkan menjadi seorang profesor di Universitas Bengkulu (Unib) pada Rabu (27/7) lalu, pada umur 62 tahun setelah mengabdi di dunia pendidikan selama 36 tahun.

Akhirnya sah, menjadi guru besar pertama di FEB Unib. Ya, ia menjadi yang pertama, setelah sekian puluh tahun berdirinya FEB Unib. Ia menjadi tauladan bagi dosen lain.

Dan ini adalah torehan kedua, setelah di masa lampau ia juga menjadi Dekan perempuan pertama di FEB Unib pada 2004 silam.

Bicara soal yang pertama, kita akan mengenang profesor perempuan pertama di Indonesia, yakni Siti Baroroh Baried.

BACA JUGA: Keren, Sekelas BUMDEs Mampu Produksi Sepatu Berkualitas

Tercatat dalam sejarah sebagai guru besar perempuan pertama di Indonesia pada 1964. Barangkali itu pula motor penggeraknya, untuk menjadi yang pertama pula.

Bila Siti Baroroh Baried yang pertama di Indonesia, maka Muhartini Salim menjadi yang pertama di FEB Unib.

Saat ditemui kemarin (30/7), Muhartini menerima kedatangan RB dengan ramah.

Sesaat ia langsung semangat berbagi cerita seputar pengalaman hidupnya. Mungkin itu pula yang menjadi sebab, banyak mahasiswa yang dekat dan akrab padanya.

Mata sang dosen sempat terlihat berlinang, saat ia bercerita bahwa menjadi seorang Profesor adalah impian dari orangtuanya.

“Muhartini jadilah profesor suatu saat nanti, papi dan mami selalu mendoakan,” ujar kedua orangtua semasa masih hidup dan di saat Muhartini baru diangkat menjadi Dosen PNS pada 1986.

BACA JUGA: Tugas Guru Buat LKS, Bukannya Jualan LKS

Karirnya diawali sebagaiasisten dosen salah satu guru besar di Universitas Sriwijaya.

“Setelah itu saya diangkat menjadi dosen di sana, tidak berselang lama saya ikut suami ke Bengkulu, karena suami saya pindah tugas,” sampainya.

Muhartini, lahir di Palembang pada 9 Juli 1960. Anak ke 10 dari 12 bersaudara.

Putri dari pasangan H. Salim dan Hj. Aminah Tu’zahariah. “Mereka adalah orangtua yang hebat, tanpa didikan mereka takkan saya menjadi seperti ini,” harunya.

Soal pendidikan, ia menempuh sekolah dasar di SD Taman Siswa Palembang. Lalu, ia pun melanjutkan ke SMP N 6 dan SMA Xaverius I Kota Palembang.

Kemudian ia kuliah dan lulus S1 di Program Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (FE Unsri) pada 1985.

Lalu lulus Magister Management Fakultas Ekonomi Unib pada 2001. Kemudian lulus Program Doktor Ilmu Manajemen FEB Unib pada 2016.

BACA JUGA:4 Aspek Ini Syarat Tingkatkan Mutu Pendidikan

Saat ini ia menjabat sebagai pengelola Program Studi S3 Manajemen di FEB Unib. Selain aktif mengajar juga aktif dalam melakukan penelitian dibidang manajeman pemasaran.

Saat ini telah menghasilkan beberapa karya ilmiah di Jurnal Internasional Terindeks Scopus, Sinta dan jurnal bereputasi lainnya.

Suka duka dalam meniti karir tentu banyak ia lewati, tapi ia tak banyak bicara soal ini, karena menganggap yang lalu biarlah menjadi kenangan. Namun ada satu momen yang selalu diingatnya, ia pernah di demo oleh mahasiswanya sendiri.

“Walau begitu, ibu enggak sakit hati, karena itu sudah bagian dari tugas. Tahu tidak yang mendemo ibu dulu siapa?,” tanyanya.

Sambil senyum ia mengatakan, mahasiwa itu adalah Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu sekarang, yakni H. Helmi Hasan, SE dan Dedi Wahyudi, SE.MM.

“Kini mereka sudah menjadi orang penting di Kota Bengkulu. Dan banyak mahasiswa lainnya,” tambahnya.

BACA JUGA:712 Sekolah Ingin Terapkan Kurikulum Merdeka

Kesuksesannya dalam dunia pendidikan juga berbanding lurus dengan kesuksesannya menjadi ibu.

Ia menikah dengan H. Adharsyah, S.E dan dikaruniai anak bernama Ahmadi Agra, S.Kom dan Amanah Ramadia, PhD.

Anak lelaki pertamanya yang lulusan S1 UI telah bekerja di Bank Negara Indonesia (BNI) Pusat.

Sedangkan anak perempuannya, kini bekerja sebagai konsultan pada Bank Sentral Dunia. Pernah di waktu SMA anaknya (Perempuan, red) meraih penghargaan tingkat dunia.

“Kuncinya adalah Hablum Minallah dan Hablum Minannas. Dekati sang pencipta dengan ketakwaan, salat jangan tinggal, begitu pula dengan mengaji.

Dan jaga hubungan yang baik kepada sesama manusia,” terang Muhartini. (ABI LA BABA) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: