Reporter : redaksi rb
Editor : redaksi rb
Sedangkan Erick Thohir yang merupakan dulur kito wong sumbagsel asal Gunung Sugih Lampung Tengah mengatakan, ia mengapresiasi Maspro Sumbagsel yang bisa menghadirkan lima gubernur dan tiga menteri secara langsung.
"Saya diberikan kesempatan oleh Presiden untuk melihat kebeberapa negara, tidak lain untuk melihat geopolitik yang berubah saat ini," kata Erick Thohir.
Menurutnya, banyak sekali tulisan pengamat dunia, bankers dunia yang melihat bahwa globalisasi ini akan berubah menjadi regionalisasi.
"Tentu sejalan dengan yang kita sepakati bersama. Terlepas Indonesia sebagai negara dan harus tetap merajut hubungan dengan Asia Tenggara. Tetap di Indonesia ada Regional-regional juga," ungkapnya
Menurutnya, tidak mungkin bersandar pada ekonomi di Jawa terus dimana dilihat dari kepadatanya dan pertumbuhan jadi kota modern, maka akan sangat sulit sekali dari segi pertumbuhan sumberdaya alam dan pendukung lainnya.
"Jawa lebih ke industrial, untuk itu Sumbagsel merupakan hal yang menarik. Tentu saya secara pribadi menyampaikan ini butuh dukungan semua pihak," ujarnya.
Masih kata Erick Thohir, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi yang penting namun harus punya road map sendiri. Salah satu road map nya adalah hilirisasi sumberdaya alam dan isu pangan. Kalau dilihat data-data di dunia menunjukkan pangan akan terus naik dan tidak turun sampai 2030.
"Kita lihat kondisi Indonesia ini importir minyak, pertanyaan apakah kekuatan sumberdaya alam atau pangan kita yang sekarang banyak diekspor keluar negeri bisa bertahan lama selama harga minyak masih mahal," katanya.
Artinya apa?, surplus perdagangan yang hampir Rp 300 triliun ini pun akan terancam ketika BBM terus setinggi hari ini, karena masih import. Tetapi income dan pertambangannya terus menurun.
"Maka ini sebuah potensi bagaimana Sumbagsel bisa untuk mengambil kesempatan yang ada. Jadi selain infrastruktur, penopang pemasukan negara dari segi sumberdaya alam dan pangan juga harus ditingkatkan," pesannya.
Sementara itu terkait Gubernur Babel yang menyampaikan soal timah, bahwa memang Indonesia salah satu produsen timah terbesar di dunia. Tapi masih terjebak mindset untuk menjual raw material atau bahan baku.
"Padahal inilah yang jadi kekuatan kita. Ini penting sekali, yang tadi dinamakan kawasan industri terpadu di Babel perlu dipertimbangkan. Apalagi Presiden sudah bekerja keras untuk menarik investor dari luar negeri untuk mengeser semikonduktor di negera lain ke Indonesia," ungkapnya.
"Karena semikonduktor perlu timah sebagai soldernya dan juga Indonesia mempunyai penduduk yang cukup besar, 273 juta dimana hari ini 54 persen gen z dan milenial artinya ada market dan sumberdaya manusia yang siap pakai. Kalau Babel fokus maka hasilnya luar biasa," katanya.
Ia pun mencontohkan, seperti di Batang Jawa Tengah, dari 4600 hektare hampir 2000 hektare sudah terinvestasi dalam waktu dua tahun. Artinya ada investasi masuk dan pertumbuhan ekonomi terjamin serta terbuka lapangan pekerjaan. Batang tidak ada apa-apa, hanya sebuah kawasan industri.
"Saya lebih mendorong bagaimana kolaborasi Pemerintah Daerah dan Pusat, bagaimana timah ini bisa dicari solusinya bersama. Toh ini income yang besar dan off taker nya ada," katanya.
Menurutnya, pangan jadi hal yang sangat penting kedepan. Kalau bicara pangan di kementerian BUMN mengenalkan namanya program Makmur (Mari Kita Majukan Usaha Rakyat), targetnya 200 ribu hektare sekarang baru 80 hektare khususnya Sumbagsel ada 8 hektare. Ini yang membedakan dengan program sebelumnya, dimana kalau program sebelumnya petani hanya diberikan pembiayaan tanpa pendamping bahkan kalau gagal panen didiamkan dan tidak ada off takernya.
Makmur ini ada fokus pada lima hal yaitu sawit, gula, kopi, padi dan jagung. Progam ini bisa berhasil kalau didukung oleh pemerintah daerah dan Kementerian lainnya. Petani diberikan dana dari Himbara, lalu diberikan pupuk yang tepat waktu tapi non subsidi, tetapi bibit yang benar. Didampingi Jasindo kalau gagal panen. Hasilnya 100 persen di off taker.
"Para gubernur dan bupati agar mendorong program Makmur, agar lebih besar dan harus berkomitmen sama-sama. Jenisnya tidak boleh beda-beda, kalau beda-beda tidak memungkinkan dan jadi berat dari segi logistiknya," ujarnya.
Lalu ada juga progam sawit untuk rakyat. Indonesia ini produksi sawitnya 46 juta dan Malaysia 18 juta, tapi dengan adanya perang Ukraina dan Rusia efeknya menguncang 20 persen minyak nabati.
"Banyak negara Eropa yang tadinya menolak beli sawit, tapi sekarang diam-diam beli sawit artinya kalau kita bisa tunjukan ke negara lain bahwa kita punya ekosistem yang besar maka itu akan jadi peluang yang bagus," katanya.
Menurutnya, kebutuhan minyak hayati penting dan ada market yang hilang. Inilah yang didorong, tentu di Sumbagsel jangan kalah dengan Sumut karena sawit trend-nya luar biasa.
"Terlepas dari infrastruktur yang dijalankan tapi ini software yang bisa dijalankan dan fokus pada titik-titik yang tepat itu bisa jadi kunci," cetusnya.
Menurutnya, untuk Kopi ada 6200 hektare dan akan ditinjau bagaimana kelanjutannya. Jambi, Lampung dan Sumsel harus berterimakasih pada pak Basuki.
"Indonesia Investment Authority (INA), bersama kementerian memberikan solusi, ketika jalan tol tidak lagi berdasarkan hutang tapi investasi. Karena kita harus menekan beban hutang kita," bebernya.
Masih kata Erick Thohir, INA sudah bertransaksi untuk tol Sumatera dan Jawa sebesar Rp 39 triliun yang diharapkan dengan kesehatan HK dan Waskita bisa meneruskan jalan tol lain yang ada di Sumatera. Karena kalau mau berhutang berat sekali, namun karena hutang turun dengan investasi maka jalan tol bisa dikembangkan lagi.
"Kita perlu meningkatkan peran swasta yang besar, 1/3 dorongan ekonomi nasional. Memang saat Covid-19 BUMN dan Pemerintah pusat, tapi kedepan harus dikejar lagi supaya pertumbuhan ekonomi yang kita harapkan bisa terus diatas 5 persen terlepas inflasi kita ketika harga-harga naik karena banyak import," katanya
Menurutnya, inflasi tidak boleh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Maka ini yang harus dijaga. Perlu bekerja sama saling merajut tanpa harus menyalahkan. Karena ini solusi yang penting untuk semua.
"Inilah Keluarga kita Sumbagsel. Dimana para bupati dan gubernur bersatu dan memberikan solusi. Maspro ditantang apa hasil yang didapatkan dan apa implementasi kongkrit dari masing-masing keputusan yang diambil dari seminar jilid II ini," tutupnya.
Dalam seminar Jilid II Maspro kali ini turut hadir Tantowi Yahya sebagai perwakilan dari Maspro Sumbagsel yang menyampaikan summary dari hasil seminar Jilid I dan hadir juga Ketua BPK RI Agung Firman Sampurna. Sedang sebagai moderatornya Helmy Yahya. (desti/prw)