HONDA

JOE, JOAN DAN GISEL

JOE, JOAN DAN GISEL

 

TIGA nama menjadi buah bibir akhir pekan ini. Joe, Joan dan Gisel. Ketiganya mewakili dunia politik, MotoGP dan jagad hiburan. Dua nama pertama memetik buah dari kesabaran. Nama terakhir justru sedang diuji kesabaran.

Joe Biden, terpilih menjadi Presiden AS ke-46. Tanda-tanda kemenangan Joe sudah terlihat setelah dia menang di Wisconsin (10 EV) dan Michigan (16 EV). Dua Negara bagian yang pada Pilpres sebelumnya dikuasai Donald Trump. Dia cukup menang di Nevada (6 EV) untuk mencapai batas minimal kemenangan 270 suara elektoral. Namun ternyata Joe melebihi ekspektasi pengamat. Dia juga merebut dua swings state yang dulu Hillary kalah yakni Georgia (16 EV) dan Pensylvania (20 EV). Total dia meraup 290 EV.

Joe memecahkan rekor sebagai presiden tertua dalam sejarah Amerika Serikat. 77 tahun. Memecahkan rekor Donald Trump. Saat menjadi presiden 2016 lalu, Trump berusia 70. Wakil Joe, Kamala Haris juga memecahkan rekor menjadi perempuan pertama yang menjadi Wakil Presiden AS. Sejak declaration of independent 4 Juli 1776, presiden dan wakil presiden AS tidak pernah perempuan. Rekor itu hampir dipecahkan Hillary Clinton ketika maju Pilpres 2016. Namun sayang, Hillary kalah dari Trump dan hanya meraih 227 EV.

Figur Joe adalah potret kesabaran dan kematangan. Saat Donald Trump mendeklarasikan kemenangan, Joe justru meminta para pendukungnya bersabar menunggu hasil penghitungan suara tuntas. Usianya menjadi cermin kematangan politiknya. Tak sedikitpun dia terpancing atas provokasi-provokasi Trump soal kecurangan dan tuntutan penghentian penghitungan suara. Sebaliknya Trump, tua-tua tebu, semakin tua semakin belagu. Dia mengikuti demokrasi, tapi dia sendiri tidak percaya demokrasi.

Dibanding saat Obama pertama kali terpilih menjadi presiden AS pada 2008, antusiasme terpilihnya Joe memang belum sebesar saat itu. Namun publik menaruh harapan baru terhadap Joe setelah empat tahun dikuasai politik obrak-abrik Donald Trump.

Sederet kebijakan kontroversial Trump antara lain mencekal warga dari tujuh Negara dengan alasan ekstremisme. Tujuh Negara itu adalah Irak, Suriah, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman. Keputusan ini dinilai lebih menunjukkan kepribadian Trump yang Islamphobia.

Trump juga menyulut perang dagang dengan menaikkan bea impor produk dari Tiongkok. Aksi saling balas menaikkan bea impor berimplikasi pada negara berkembang yang menjadi pasar. Indonesia pernah merasakan dampak politik obrak-abrik Trump. Februari 2020 lalu, bersama 24 negara berkembang lainnya, Indonesia dikeluarkan dari daftar Negara yang berhak menerima fasilitas tarif bea masuk. Dalam konteks hubungan AS dengan Negara-negara Islam, Trump juga pernah membuat kebijakan kontroversial yaitu mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel. Dia juga memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerussalem. Padahal, isu Yerussalem sangat sensitif bagi upaya perdamaian di Timur Tengah. Yerussalem masih diperebutkan Israel dan Palestina. Di situ ada tembok ratapan (tempat suci umat Yahudi), Gereja Makam Kristus (tempat suci umat Kristen) dan Masjid Al Aqsa (tempat suci umat Islam). Barack Obama, presiden AS sebelumnya, lebih moderat dengan menawarkan penyelesaian agar Yerussalem dibagi dua sebagai solusi bersama. Yerussalem Timur sebagai itukota Palestina, dan Yerussalem Barat ibukota Israel. Pada 2018, Trump kembali mengobrak-abrik negosiasi yang dibuat AS sendiri bersama sekutunya terkait persoalan nuklir Iran. Pada era Obama, negosiasi AS dan Negara-negara barat mencapai kesepakatan penting terkait isu nuklir Iran. Namun Trump membatalkan kesepakatan tersebut. Keputusan ini bukan hanya menciptakan ketegangan militer dengan Iran, tapi juga membuat bingung sekutu AS sendiri yang telah menandatangani kesepakatan tersebut.

Seperti halnya gaya koboi banyak presiden dari Partai Republik, Trump juga meninggalkan tatanan yang buruk bagi terwujudnya perdamaian di Timur Tengah. Dia pernah memerintahkan militer AS membunuh jenderal Iran, Qaseem Suleimani. AS juga terlibat jauh dalam pertempuran tak berkesudahan di Suriah.

Dalam empat dekade terakhir, keterlibatan AS dalam perang-perang besar terjadi saat dipimpin presiden dari Partai Republik. Perang teluk 1991, yang jadi presiden AS adalah George HW Bush dari Republik. Perang itu punya kontribusi besar bagi tersemainya bibit-bibit ekstremisme yang berpuncak pada peristiwa 9/11 pada 2001. Ketika AS menyerang Irak tahun 2003, yang jadi presiden George W Bush junior juga dari Partai Republik.

Bayang-bayang terjadinya perang dunia ketiga mengiringi terpilih Donald Trump pada Pilpres AS 2016. Empat tahun pertama memimpin AS, memang belum ada perang militer yang tercipta. Namun sejatinya Trump telah menabur bibit-bibit perang melalui kebijakan-kebijakan kontroversial terkait isu nuklir Iran, konflik Israel-Palestina, perspektif Trump terhadap ekstremisme yang cenderung menyamakan dengan Islam. Sangat mungkin kalau terpilih lagi menjadi Presiden, dalam periode keduanya, Trump akan menyerang Iran.

Buah dari politik obrak-abrik Trump selama empat tahun memimpin AS bukan hanya menciptakan ketegangan global dari sisi luar negeri, tapi juga menghidupkan rasisme dari sisi domestik AS. Unjukrasa berujung bentrokan terkait isu rasis banyak terjadi selama Trump memimpin. Puncaknya kematian George Flyod, yang tewas dicekik polisi kulit putih beberapa bulan lalu telah memicu ketegangan etnis dan unjukrasa besar-besaran di seluruh penjuru negeri paman sam. Bahkan ada yang menyebut, AS bisa saja kembali terlibat perang sipil 1860.

Kesimpulannya di era Donal Trump, AS bukan lagi negeri multikultural.

Karena itu, tampilnya Joe Biden dari Partai Demokrat sebagai pengganti Trump, menyisipkan sebuah asa baru. Slogan Joe "saatnya menyembuhkan Amerikaā€¯ saya kira relevan dengan kondisi empat tahun carut-marut peninggalan Trump. Ada harapan Joe bisa meredakan ketegangan di Timur Tengah melalui pendekatan non militer, utamanya terhadap Iran, Suriah, dan Palestina. Ada harapan Joe tidak Islamphobia sehingga hubungan bilateral dengan Negara muslim bisa konstruktif. Karena itu ada harapan Joe tidak melakukan pencekalan terhadap warga dari Negara-negara muslim. Ada harapan pula Joe bisa menghidupkan kembali AS sebagai negeri multicultural.

Lalu apa hubungan dengan Joan? Seperti halnya Joe Biden, Joan Mir menerapkan falsafah pelan tapi pasti. Bermula tidak diperhitungkan, lalu meraih podium demi podium, memimpin klasemen MotoGP dan akhir pekan kemarin Joan membuktikan diri sebagai seorang pemenang. Dia meraih podium 1 MotoGP Eropa yang dipentas di sirkuit Ricardo Tormo Valencia. Kemenangan itu memantapkan posisi Joan sebagai pemuncak klasemen dengan 162 poin, disusul Fabio Quartarato (Yamaha) dan rekannya sesama tim Suzuki Ecstar, Alex Rins masing-masing dengan nilai 125. Dengan dua balapan sisa, Joan tinggal mengamankan 14 poin saja untuk mengukuhkan status sebagai juara dunia MotoGP 2020.

Bagaimana dengan Gisel? Sama seperti Joe dan Joan. Nama yang satu ini juga menjadi buah bibir. Riuh nama Gisel di media sosial juga sama ramainya dengan Joe. Bedanya, ini bukan soal kemenangan, tapi soal video syur seorang wanita yang mirip Gisella Anastasia (29 tahun) atau biasa dipanggil Gisel. Nama mantan istri Gading Martin ini menjadi trending topic. Gara-gara video berdurasi 19 detik itu, nama Gisel viral dalam pemberitaan menyusul Joe dan Joan. Benarkah wanita dalam video syur tersebut adalah Gisel? Gisel sendiri katanya bingung memberi klarifikasi. Jadi tebak saja sendiri.

SALAM MULTIKULTURALISME

Oleh Zacky Antony. Penulis adalah Ketua PWI Provinsi Bengkulu dan mantan Pemred Rakyat Bengkulu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: