Panen Melimpah, Harga TBS Tetap Dingin: Tantangan Ekonomi Petani Kelapa Sawit di Bengkulu Utara
Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu Utara tak kunjung naik--Dok/KORANRB.ID
RAKYATBENGKULU.COM - Sejak dibuka empat hari pasca libur perayaan Idul Fitri, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu Utara masih berada pada level terendah sesuai ketetapan Pemerintah Provinsi Bengkulu.
Hal ini menjadi sorotan di tengah kondisi pasar yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan mengundang keprihatinan, terutama bagi para petani yang sangat mengharapkan adanya kenaikan harga sebagai hasil peningkatan mutu dan kuantitas buah kelapa sawit.
Kepala Dinas Perkebunan Bengkulu Utara, Desman Siboro, SH, menerangkan bahwa hingga saat ini belum terjadi kenaikan harga TBS, meskipun terdapat penurunan sebesar Rp130-150 sejak pabrik membuka operasional pasca libur Idul Fitri.
“Memang sejauh ini harga belum menunjukan pulih atau terjadi kenaikan, namun kita terus melakukan pengawasan,” terangnya.
BACA JUGA:Ribuan Kendaraan Dinas di Seluma Dikumpulkan: Pemkab Tertibkan Aset dan Siapkan Mobnas Baru
BACA JUGA:Baru 37 Hari, Program 100 Hari Kerja Bupati Kaur Sudah Capai 60 Persen Realisasi
Pengawasan ini dilakukan guna menjaga kestabilan pasar dan mengantisipasi fluktuasi harga yang dapat berdampak negatif pada pendapatan petani.
Pasca libur, melimpahnya pasokan buah kelapa sawit dari para petani membuat pabrik mengalami kelebihan stok, sehingga harga tidak mengalami kenaikan.
“Namun kita berharap hal ini tidak terus terjadi sehingga trend kenaikan harga tandan buah segar kelapa sawit bisa kembali terjadi di Bengkulu Utara," tambah Desman.
Pernyataan ini mencerminkan harapan agar kondisi kelebihan pasokan segera normal kembali demi menunjang daya beli dan kesejahteraan petani.
BACA JUGA:Bandara Soekarno-Hatta Siap Sambut Musim Haji 2025, Layanan Lebih Nyaman di Terminal Baru
BACA JUGA:Resmi Tutup Setelah 33 Tahun, Tupperware Pamit dari Indonesia: 'Lebih dari Sekadar Produk'
Selain itu, kekhawatiran juga mulai muncul dari kalangan petani terkait kemungkinan penurunan harga yang terus berlanjut.
Khawatir harga TBS bahkan dapat jatuh di bawah Rp2.000 per kilogram, kondisi yang tentunya akan memperburuk ekonomi mereka terutama dalam situasi ekonomi global yang tidak menentu, terkait harga ekspor Crude Palm Oil (CPO).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

