HONDA

Idulfitri dan Ketimpangan Sosial: Refleksi yang Tak Boleh Hilang

Idulfitri dan Ketimpangan Sosial: Refleksi yang Tak Boleh Hilang

Penulis Nugroho Tri Putra, M.I.Kom mencoba merefleksikan makna bahwa Idulfitri bukan hanya tentang "kembali bersih", tapi juga "berbagi keadilan".--dokumen/rakyatbengkulu.com

Oleh: Nugroho Tri Putra, M.I.Kom*

SUARA takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang. Menandakan perayaan Idulfitri 1447 hijriah telah tiba. Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi refleksi moral dan spiritual. Nilai utamanya adalah keikhlasan, kesederhanaan, dan empati sosial. 

Tulisan ini mencoba merefleksikan makna bahwa Idulfitri bukan hanya tentang "kembali bersih", tapi juga "berbagi keadilan". Karena, refleksi sosial harus terus hidup tidak boleh hilang dalam euforia.

Idulfitri sejatinya sebagai momentum perubahan sosial, bukan sekadar seremoni. Sisi realitas sosial kerap memperlihatkan kemeriahan yang berlebihan dan gaya hidup konsumtif. 

Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Ketimpangan terasa lebih mencolok saat momen kebahagiaan kolektif.

Perbedaan akses ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan mejadi fenomena ketimpangan sosial. Idulfitri seharusnya memperkuat rasa kepedulian terhadap sesama. Menghidupkan kembali semangat berbagi, bukan hanya formalitas. 

Dari Sekadar Memberi Menjadi Memahami

Memberi adalah tindakan mulia. Sejak kecil, kita diajarkan bahwa berbagi kepada sesama terlebih kepada mereka yang membutuhkan adalah bentuk kebaikan yang harus dijaga.

Setiap Idulfitri, nilai ini hadir dalam berbagai wujud: zakat yang ditunaikan, sedekah yang disalurkan, paket sembako yang dibagikan, hingga uang yang diselipkan dalam amplop untuk mereka yang lebih membutuhkan.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering terlewat: apakah memberi saja sudah cukup?

Dalam banyak kasus, memberi kerap berhenti pada tindakan simbolik. Kita merasa telah menunaikan kewajiban, telah berbuat baik, bahkan mungkin telah merasa lega. Tetapi di sisi lain, orang yang menerima belum tentu merasa benar-benar dipahami. Mereka menerima bantuan, tetapi tidak selalu merasakan kehadiran empati yang utuh.

Di sinilah perbedaan mendasar antara memberi dan memahami.

Memberi adalah tentang apa yang kita lakukan.

Memahami adalah tentang bagaimana kita merasakan.

Memberi bisa dilakukan dari jarak jauh, bahkan tanpa mengenal siapa yang menerima. Sementara memahami menuntut kedekatan emosional, sosial, bahkan kadang-kadang personal. Ia mengharuskan kita untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain: merasakan kegelisahan mereka, memahami keterbatasan mereka, dan menyadari bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan yang sama bagi setiap orang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: